Terapi Bagi Yang Masih Sepi

Seorang rekan Notaris&PPAT pernah mengeluh bahwa kantornya sepi. Tak ada klien yang datang. Kalaupun ada pekerjaan, kebanyakan berupa operan APHT dari teman sejawatnya dari daerah kerja yang lain. Karyawannya tak banyak aktivitas. Para pegawai tampak menghabiskan waktu membaca tabloid, nonton teve dan sibuk chatting dengan telepon pintarnya.

“Lalat pun enggan mampir dan hinggap di sini,” katanya, lirih. Negatif sekali ungkapannya. “Wah, itu gampang. Taruh saja bangkai tikus, lalat pasti datang,” sela saya, sekenanya. Mengapa rekan itu pesimis banget? Bila ada waktu kosong, kan bisa membaca buku atau mendalami lagi makalah seminar, misalnya. Ia menduga-duga, apakah ini karena faktor Notaris yang sudah makin banyak? Atau lokasi kantornya kurang hoki? Padahal, harga akta yang ditawarkannya rendah. Bahkan jauh di bawah standar.

Mendengar keluhannya itu, saya bergumam dalam hati: “Hari begini, masih mengeluh tidak ada pekerjaan? Apa kata dunia?” Sementara rekan-rekan Notaris lain justru kelimpungan karena saking berlimpahnya order. Bahkan karena begitu banyaknya, pemerintah merasa perlu membuat peraturan tentang pembatasan jumlah akta per hari yang dapat dibuat Notaris/PPAT. Namun, di sisi lain, masih ada rekan yang mengeluh begitu. Padahal, lokasi kantornya tidak di pelosok tanah air, tapi masih di Bodetabek. Weleh..weleh..

Kepada rekan tersebut saya coba berbagi ide. Semacam terapi. Pertama, benahi dulu pola pikir, mindset. Selalu berpikir positif dan berjiwa besar. Hindari ekspektasi rendah dan selalu optimis. Sebab, apa yang kita ekspektasikan di dalam alam bawah sadar, maka hanya sebatas itulah yang akan dicapai. Jika yang diharapkan sekadar dapat pekerjaan satu dan dua, maka yang didapat ya hanya seperti itu. Tidak lebih. Seperti dimaklumi, dalam literatur psikologi, semua yang terjadi dan dicapai hanyalah permainan pikiran di alam bawah sadar. Karenanya, para pengusaha sukses sering menganjurkan kita punya impian, tujuan dan ekspektasi tinggi.

Bagaimana bila ekspektasi tidak tercapai? Orang sukses berpendapat, sesuatu yang diimpikan dan diekspektasikan saja belum tentu tercapai. Apalagi tidak pernah diimpikan dan diharapkan. Hal ini juga sesuai dengan ajaran agama. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa jika seorang hamba bertanya bagaimana Tuhan kepada hamba-Nya, maka disebutkan bahwa “Aku adalah seperti persangkaan hamba-Ku.” Lalu, rekan tersebut saya sarankan membaca buku klasik Berpikir dan Berjiwa Besar yang ditulis David J.Schwartz. Para pegawai di kantornya perlu juga membaca buku-buku pengembangan diri.

Kedua, saya sarankan agar menyingkirkan pesawat teve dari kantornya. Pertama, kantor bukan tempat nonton teve. Kalaupun mau juga, silahkan di rumah saja, di luar jam kantor. Kedua, acara teve juga tidak banyak yang positif. Bila siang dan malam, di rumah apalagi juga di kantor nonton teve melulu, yang isinya negatif, maka masukan ke mata, otak dan alam bawah sadar adalah hal yang negatif. Terus, disarankan berhenti membaca tabloid yang isinya seputar gosip para artis. Itu semua informasi tak berguna dan membuang waktu. Ingat ungkapan: garbage in garbage out, sampah yang masuk sampah pula yang keluar. Bila kita bertemu calon klien, berpengaruh pada aura yang ikut negatif.

Ketiga, jangan memasang tarif di bawah standar. Hindari dalam pikiran bahwa yang penting sekadar ada pekerjaan. Mari menghargai diri sendiri dan profesi yang luhur dan bermartabat ini. Buatlah tarif yang wajar sesesuai peraturan jabatan, kode etik dan panduan organisasi. Harga yang rendah bukan cara yang baik merebut hati calon klien. Bahkan, harga murah justru bisa membuat calon klien ragu. Dari segi psikologi pemasaran, harga murah justru tambah membuat tidak laku. Tidak percaya? Coba perhatikan, seminar yang dipasarkan dengan harga Rp 1 juta atau lebih, justru lebih laku dan ramai pesertanya daripada seminar yang murah seharga Rp 100 ribu.

Jadi, sebaiknya berhentilah bersaing dengan cara banting harga. Di samping tidak sehat, ruginya bisa berkali-kali. Pertama, tambah tidak laku karena pasar ragu. Kedua, imbalan yang diterima sangat kecil. Belum lagi bila akta yang dibuat, ternyata menimbulkan masalah hukum di kemudian hari. Sudahlah membuat makin ditinggalkan klien, persaingan tidak sehat dengan sesama rekan, harga yang ditarik minim pula, ada masalah hukum juga. Bertumpuk-tumpuk deh ruginya.

*Dimuat Majalah RENVOI edisi Februari 2014.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.