Senggol Senggolan

Bak sebaran material letusan Gunung Kelud, tiba-tiba dalam beberapa bulan terakhir ini notaris-notaris baru bertebaran di mana-mana. Di blok ujung perumahan dekat masjid, tak jauh dari tempat tinggal saya, tiba-tiba saja terpasang plang notaris. Di bengkel tempat cuci mobil, terselip pula plang notaris. Di tempat tukang jahit, ternyata ada juga notaris yang ngantor di pojok ruangan itu.

Di halaman tempat jualan mobil bekas, saya lihat menyempil pula papan nama notaris. Kecil saja ukurannya. Tak terlihat di ruang mana sebenarnya kantornya, karena yang tampak hanyalah mobil-mobil bekas yang sedang dipajang. Lalu, bersatu dalam kios jualan pulsa, ternyata ada juga notaris. Kemudian ada papan nama pangkas rambut, di lantai atasnya ada pula notaris. Di sebuah warung makan, di belakangnya ada tangga, begitu naik ternyata ada pula kantor notaris.

Beberapa papan nama notaris ditemukan juga berdempet-dempet dengan plang sablon reklame, usaha binatu, toko obat kuat dan jasa ekspedisi.Tapi, saya belum pernah melihat plang nama notaris yang bersatu dengan panti pijat, bilyar atau hotel jam-jaman. Mudah-mudahan hal itu memang itu tidak ada. Bukan karena saya belum menemukannya.

Klien kami yang punya usaha penyewaan ruko, belakangan senang bukan kepalang. Rukonya di berbagai tempat, laris tersewa bak kacang goreng. Maklum, banyak notaris baru yang mau buka kantor. Sewanya tentu bervariasi, dari yang harga sedang sampai lumayan mahal. Mantan pegawai saya yang buka kantor notaris di daerah Cibinong, Kabupaten Bogor, merogoh kantong Rp 95 juta hanya untuk sewa ruko selama setahun. Lumayan modalnya. Tapi yang nyelip-nyelip sela-sela tempat usaha sablon reklame dan toko obat kuat itu, tentu lebih murah. Tak penting ada ruang tamu, ruang kerja atau apalagi ruang rapat. Yang penting ada plang nama dan meja konter seadanya.

Notaris-notaris baru memang bak sedang disemburkan dari kawah gunung berapi. Profesi notaris tampaknya makin menjadi idaman banyak orang. Program Studi Notariat dulunya hanya ada di PTN tertentu, sekarang juga ada di PTS. Kemenhum dan BPN pun tampak sedang kompak pula obral SK, bak bedol desa.

Seorang rekan, notaris senior di Jakarta, menelepon saya. Diceritakan bahwa persis di sebelah kantornya, dibuka kantor notaris baru. “Mengapa ia buka persis di sebelah ruko saya? Kayak tidak ada tempat lain saja. Tanpa permisi, tanpa kulo nuwun lagi,” curhatnya. Rekan tersebut sudah berkantor di sana belasan tahun. Ia merasa, notaris baru yang membuka kantor di sampingnya itu kurang punya rasa satu kolega dalam satu keluarga. Menurutnya, tidak tepatlah sesama Notaris berkantor berdempet-dempet seperti itu. Antara para pegawai juga saling intip-intipan. Belum lagi soal parkir mobil, bisa timbul saling salah pengertian. “Kita kan bukan penjual ikan atau pedagang bakso, ” tuturnya. Seperti judul lagu dangdut tempo doeloe, sesama Notaris yang buka kantor berdampingan jadi “senggol-senggolan”.

Apa yang dikeluhkan rekan tersebut memang tampak di mana-mana. Mungkin di semua kota di seluruh Indonesia. Saya pernah pula melihat di sebuah gedung perkantoran, terdapat tiga notaris. Ketiganya memasang plang berderet di depan gedung itu. Pasti banyak cerita lucu di antara ketiga notaris itu. Misalnya tamunya “salah kamar” yang masuk ke kantor rekan yang bukan ditujunya. Terus, tamu yang salah kamar itu, apakah “diserobot” atau dikembalikan ke alamat sebenarnya? Entahlah. Soal parkir di lahan terbatas juga bisa senstif. Kantor kami yang bersebelahan dengan laboratorium saja, masih sering tamu salah masuk. Ada yang mau cek darah ke labor sebelah, eh masuknya ke kantor kami. Sebaliknya ada yang mau buat akta notaril, malah masuk ke labor itu. Apalagi bila bersebelahan sesama kantor notaris. Makin seru deh senggol-senggolannya.

Memang betul, soal rezeki tidak akan ke mana-mana, karena semua dari Tuhan. Tapi untuk menghindari gesekan sesama rekan dan persaingan tidak sehat, mungkinkah organisasi INI membuat aturan kode etik soal lokasi kantor ini? Atau mau dibiarkan bebas senggol-senggolan seperti saat ini?

Ketika tahun 2000 lalu saya menghadiri acara kongres dan upgrading, seorang pejabat tinggi negara, waktu itu pernah bercanda dalam pidatonya. “Kini, mencari kantor notaris, jauh lebih mudah daripada mencari tukang tambal ban,” katanya. Para peserta yang semuanya notaris dan PPAT, waktu itu tersenyum kecut. Pertama, memang itulah kenyataannya, jumlah notaris pada tahun 2000 itu saja sudah demikian banyaknya. Kedua, notaris “disetarakan” dengan tukang tambal ban. Kurang sopan juga pejabat itu. Ia seperti merendahkan profesi notaris, jabatan luhur dan bermartabat itu. Dulu saja sudah begitu, bagaimana sekarang?

Featured Image Credits: Pexels

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.