Postur

Kelakuan klien dan calon klien notaris, kini makin variatif. Permintaannya macam-macam. Tidak hanya hal yang bersifat teknis, bahkan ada yang di luar garis peraturan perundang-undangan. Jika kemauannnya tidak lolos di notaris A, maka dengan mudah ia pindah ke notaris B. Bila di notaris B tidak dikabulkan juga, ia melenggang ke notaris C. Padahal, semua notaris berpegang pada UU dan ketentuan yang sama. Tapi, lucunya, ada juga yang berani memenuhinya.

Notaris yang senior, yang sudah menjalankan jabatan lebih dari 10 tahun, mungkin lebih sering menghadapi hal begitu. Ada yang menolak tegas, ada yang halus. Jika ada yang tergoda mengikuti, siap-siap menuai badai suatu hari nanti. Notaris baru, bagi pelanggan ngotot begitu, jadi sasaran empuk. Ketika berada pada posisi masih “rindu order”, baru membuka kantor, kadang tidak mudah menolak “godaan’ itu. Di sini diperlukan sikap, postur yang kuat.

Postur adalah kemampuan bersikap menjaga diri. Tidak mudah ikut arus pihak lain. Tegas dan teguh. Tidak bisa didikte atau diatur-atur. Tidak merasa membutuhkan, tapi justru dibutuhkan. Jika sebagai notaris kita mengambil posisi “membutuhkan”, maka dengan mudah diombang-ambing atau diatur-atur klien. Tentu berbeda dengan posisi “dibutuhkan”. Ibarat dalam sebuah film, orang yang punya postur adalah pemegang peran utama. Pengendali. Posisinya kuat, sehingga orang lain, klien, jadi segan. Mereka tidak mau macam-macam, karena semua berada di bawah kendali kita.

Pengalaman berikut mungkin bisa jadi ilustrasi, betapa pentingnya postur. Pekan lalu, sebuah bank swasta nasional meminta kami membuat perjanjian kredit dan pengikatan jaminannya. Data sudah diterima lengkap, semua sertipikat jaminan kredit juga sudah dilakukan pengecekan sesuai ketentuan. Jadwal akad pun sudah diagendakan, bertempat di kantor kami. Eh, dua hari sebelum jadwal akad itu, pihak bank minta agar tempat akadnya dilakukan di pabrik kepunyaan debitur. Kenapa? Menurutnya istri debitur sakit. Karena mengaku sakit, kami menyetujui. Toh, tempatnya tak jauh dari kantor kami dan masih dalam wilayah kerja.

Namun, esoknya, pihak bank menelepon lagi, minta agar akadnya dilakukan di rumahnya di daerah Jakarta Barat. Karena istri debitur sakit di sana dan tidak bisa datang ke sini sesuai kesepakatan semula. Kepada asisten yang menanganinya saya tegaskan: tidak bisa. Sebab, selain jadwal kami padat, yang lebih penting: tempatnya sudah berada di luar wilayah kerja. Namun, pihak bank tampak tak puas dengan penjelasan asisten, lalu ia menelepon langsung ke saya. “Bantu dong, Pak. Kan Cuma sekali naik tol,” rayu si nona officer bank itu.

Jawaban dan alasan saya sama: tidak bisa. Bila di tempat semula, oke. Kesediaan kami ke sana sudah luarbiasa. Harusnya di kantor kami. Tapi karena katanya sakit dan masih di wilayah kerja, kami mau. Saya kasih kuliah singkat via telepon officer bank itu: tentang postur. “Mbak, semua pihak tentu membutuhkan proses akad ini. Bank butuh, debitur juga butuh. Karena itu perlu kerjasama yang baik dengan debitur. Ia harus bekerjasama dengan kita. Jangan hanya ikuti maunya semua. Nasabah perlu diedukasi hal-hal begini.” Si nona cantik itu terdiam. “Jadi, tak bisa, Pak?” tanyanya lagi. “Tidak,” jawab saya tegas.

Kita bisa menduga dialog yang terjadi akhirnya antara officer bank dengan nasabahnya yang mau menang sendiri itu. Pasti debitur mencak-mencak, karena kemauannya tidak diikuti. Dugaan saya, debitur meminta bank agar mencari notaris lain yang mau memenuhi semua kehendaknya.

Dugaan saya tidak meleset. Benar saja. Saya dapat laporan bahwa akad batal. Berkas mau ditarik dan dipindahkan ke notaris lain. Apakah saya kecut mendengar itu? Tidak, tentu. Dengan amat tenang saya jawab: “Baik. Silahkan. Tidak masalah. Mohon diganti saja biaya pengecekan 7 sertipikat yang sudah kami keluarkan. Silahkan diambil berkas.” Eh, esoknya dapat berita lagi: akad tetap sesuai jadwal semula, karena istri debitur bisa datang.

Lalu, ketika akad berlangsung pada hari H, apa yang terjadi? Ternyata istri debitur segar bugar saja. Tak ada tanda-tanda sakit sedikitpun. Tampaknya ia hanya ngetes. Coba, bila waktu itu saya mengalah mengikuti semua kemauannya. Peraturan jabatan dilanggar, waktu dan energi habis, macet di jalan, pelayanan ke pelanggan lain terbengkalai dan kita jadi pecundang di matanya.

*Dimuat Majalah RENVOI edisi Mei 2015.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.