Perantara dan Adu Domba

Pada tulisan terdahulu, pernah dibahas soal permainan perantara jual beli tanah dan cara mengatasinya. Cukup banyak liku-liku perantara atau calo ini, apalagi jenis calo tradisional. Seringkali mereka mencoba mempermainkan harga (baik harga jual beli maupun harga biaya akta dan pengurusan), bahkan ada yang berani mendikte Notaris dengan mengancam menarik berkas segala serta “mengadu domba” sesama Notaris&PPAT.

Namun, tidak semuanya seperti itu. Adakalanya perantara perorangan ini malah berperan positif membantu Notaris. Ia bisa menjembatani kebuntuan persepsi dan komunikasi antara penjual dan pembeli. Misalnya, ada pemilik tanah dan bangunan yang, kata orang Betawi, “tidak percayaan”. Ia tidak mau memberikan asli sertipikatnya kepada Notaris untuk proses pengecekan terlebih dahulu.

Maunya fotokopi saja. Mungkin karena dapat masukan dari orang yang tidak jelas, pernah punya pengalaman buruk, ditipu orang atau karena memang tipe orangnya curiga tingkat tinggi.

Pihak Notaris sudah menjelaskan bahwa untuk proses pengecekan sertipikat harus yang asli. Tidak bisa fotokopi. Walau sudah dijelaskan oleh Notaris yang berkompeten, yang bersangkutan masih saja belum bisa menerima. Akhirnya, perantara ini yang menyampaikan kepada calon penjual. “Apa yang disampaikan pihak Notaris benar, Pak. Harus yang asli.” Karena sudah kenal lama dengan perantara, lebih percaya dan bisa mengubah persepsinya. Sepotong kalimat dari perantara itu akhirnya membuatnya mengerti dan menyerahkan asli sertipikatnya ke Notaris. Aneh tapi nyata, kadangkala mulut perantara yang baik, bisa mengubah paradigma dan sikap calon klien.

Ada lagi cerita soal peran perantara yang positif. Suatu kali sudah terjadi kesepakatan jual beli antara para pihak. Semua biaya disepakati akan ditanggung berdua keduabelah pihak. Pajak juga beban masing-masing. Tapi semuanya pajak dan biaya itu, akan ditalangi pembeli lebih dulu. Bagian pajak dan biaya yang jadi beban penjual, akan dipotong langsung dari pembayaran. Lalu, penjual dan pembeli minta dikirim perinciannya via surat elektonik (surel) atau email.

Ternyata, setelah surel dikirim, pihak penjual keluar otak isengnya. Ia cek ke Notaris lain angka-angka yang diterimanya dari kantor kami. Caranya? Ia kirim surel perincian biaya tersebut ke beberapa Notaris yang dikenalnya, di berbagai wilayah kota, sambil minta pendapat: biaya ini tergolong tinggi, rata-rata atau rendah? Awalnya, saya tak tahu perbuatannya itu. Tapi ketika ia mempertanyakan biaya-biaya yang kami hitung, akhirnya terungkap ternyata ia telah meneruskan (forward) surel kami kepada beberapa Notaris dan keponakannya yang masih kuliah di fakultas hukum. Celakanya, sebagian besar Notaris yang ditanya memberi komentar miring kepadanya: biaya itu tinggi.

Tentu saya keberatan dengan tindakannya menyebarkan surel itu ke mana-mana. Karena surel bisa beredar dengan mudah ke mana pun, bahkan ke alamat zona bahaya. Kalau ada yang perlu dikonfirmasi, tentu bisa didiskusikan dengan kami. “Karena kami yang lebih tahu atas permasalahan itu, bukan pihak lain, bukan pula ponakan Bapak itu,” ujar saya dengan nada lumayan tinggi. Saya sampaikan bahwa kami tidak bertanggungjawab bila surel yang diteruskan ke banyak pihak itu bocor kepada pihak yang tidak bertanggungjawab yang menimbulkan masalah di kemudian hari. Dan, jika pembeli mengetahui hal ini, bisa jadi transaksinya batal, karena bisa menimbulkan ekses negatif baginya.

Peristiwa itu saya sampaikan kepada perantaranya. Dan, perantara juga protes keras atas tindakan itu. “Kalau ada masalah, kan bisa didiskusikan dengan saya dulu atau ke Notaris. Tak perlu melakukan hal ceroboh begitu. Bahaya, Pak!” katanya menasehati penjual, lalu menyuruh meminta maaf pada kami. Penjual minta maaf, selesai.

Ada beberapa poin yang bisa jadi pelajaran atas kisah ini. Pertama, zaman internet sekarang, Notaris harus hati-hati mengirim surel yang bersifat konfidensial. Soalnya, bisa diteruskan ke mana-mana dengan mudahnya. Poin kedua, perantara yang seperti ini, tentu saja positif. Yang tidak positif justru rekan Notaris yang dimintai pendapatnya itu.

Seharusnya para Notaris jadi “pemain kelompok yang baik”. Tidak mengeluarkankan pernyataan yang menjatuhkan sesama rekannya. “Wah, tinggi sekali. Siapa Notaris-nya tuh?” Andaikan saya yang diminta second opinion seperti itu, saya pasti tidak akan menjawab seperti yang dilakukan rekan itu. Lebih bijaksana dan diplomatis dijawab begini: “Saya tidak bisa memberikan komentar dan pendapat. Masing-masing Notaris tentu punya kewenangan sendiri dalam menghitung komponen-komponen biayanya. Lagi pula hal itu beda wilayah dengan kami dan angkanya bisa berbeda.”

Mari menjadi pemain tim yang baik. Agar korps kita tidak dijadikan domba aduan oleh calon klien. Tak perlu menjatuhkan rekan sendiri. Sebab, jika kita menjatuhkan rekan, suatu saat kita pun akan dijatuhkan orang lain pula. Sebaliknya, jika kita menjadi anggota tim yang baik, suatu saat kita juga akan memetik manfaat dari kebaikan yang ditaburkan. Mekanisme alam semesta, hukum kekekalan energi atau hukum karma, berlaku di mana-mana.

Featured Image Credits: Pexels

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.