Menyikapi Yang Telat, Menghargai Yang Tepat

“Saya paling tidak suka membawa rombongan orang Indonesia,” keluh Franz, seorang pengemudi bus wisata di Kota Munchen, Jerman. Mendengar kalimat miring tersebut, kala itu saya langsung tersentak—dan sedikit tersinggung. “Kenapa begitu, Franz?” sergap saya. “Orang Indonesia tidak menghargai waktu. Janjinya selalu molor. Bagi saya, janji pukul 10 ya pukul 10. Bukan jam 10 lewat 1 menit atau lewat 10 menit, apalagi pukul 11. Anda tahu, time is money?”

“Tidak semua orang Indonesia begitu. Jangan samaratakan. Buktinya, saya on time,” bantah saya. “Ada memang yang tepat. Tapi, 99 persen orang Indonesia molor waktu. Pengalaman saya begitu,” jawabnya tak mau kalah. Saya tak dapat membantah lagi, karena anggota rombongan kami yang dia sopiri, ketika itu faktanya memang tak kunjung kembali ke bus sesuai waktu yang sudah diperjanjikan.

Sebagai bangsa Indonesia, tentu saya malu disebut begitu oleh orang asing yang notabene hanya seorang sopir. Tapi apa hendak dikata. Fakta memang berbicara begitu. Orang kita memang terkenal dengan jam karet-nya. Budayawan Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia, lebih 3 dekade lalu sudah menyoroti hal ini.

Bagaimana dengan skedul akad Notaris? Apakah sama juga dengan keluhan sang sopir bus dari negara juara sepakbola itu? Saya dan mungkin juga Anda, tentu sudah kenyang dengan kelakuan para klien yang sering datang molor dari waktu yang sudah dijadwalkan. Alasan macam-macam, tapi yang paling klasik: macet. Logikanya, bila kita semua sudah tahu jalanan macet, seharusnya waktu berangkatnya diperhitungkan. Berangkat lebih awal, misalnya.

Suatu ketika, kami ada jadwal akad di sebuah bank BUMN. Disepakati waktunya pukul 14.00, di bank itu. Semua pihak sudah konfirmasi. Tidak mudah menentukan jadwal ini, karena melibatkan 4 pihak yaitu bank, developer, pembeli rumah/nasabah bank serta Notaris. Kami datang setengah jam sebelum jadwal. Pihak bank dan developer pun sudah siap. Eh, pembeli rumah/nasabah bank, tak kunjung datang, meskipun jarum jam sudah lewat di angka 14.00. Padahal, kemaren sore dan pagi tadi, sudah diingat agar datang sebelum jam 14.00. Mohon jangan terlambat. Karena jam 16.00, kami ada skedul akad lagi di bank lain yang jaraknya cukup jauh. Maklum, ketika itu akhir bulan.

Ketika nasabah itu ditelepon, dengan entengnya ia menjawab bahwa baru mau berangkat dari rumah dan menuju kantor developer dulu. Menurutnya, ia mau berangkat bareng dengan staf developer. Waktu tempuh dari rumahnya ke bank tempat akad, lebih kurang 1 jam perjalanan. “Mengapa Ibu ke kantor developer? Ini pihak developer sudah hadir di sini,” ujar staf kami yang meneleponnya. Ia kembali menjawab enteng: tidak tahu jalan. Saya membatin: sebegitu parahkah manajemen pengelolaan waktunya?

“Buk, langsung saja ke bank ini, kami pandu jalannya,” tambah pihak bank pula. “Kami tunggu sampai jam 14.30 ya,” tukas saya. “Ya, saya lewat jalan tol,” jawab sang nasabah. Singkat cerita, sampai jam 15.00 tidak nongol juga batang hidungnya. Apakah saya harus menunggu Ibu itu datang? Jika saya tunggu dan akad butuh waktu lebih kurang 1 jam, jelas kami sangat terlambat datang ke bank lain yang sudah menunggu akad juga pukul 16.00. Apakah saya harus mengorbankan orang lain, karena ada orang sebelumnya yang tidak menghargai waktu dan menepati jadwal?

Akhirnya, keputusan harus dibuat. Kami kontak nasabah yang mau akad jam 16.00. Luarbiasa, ternyata ia sudah datang di bank itu jam 15.30. Saya memilih menghargai orang yang datang sesuai waktu dan tidak mau menunggu si Ibu yang memakai jam karet ini. “Begini, Buk. Silahkan lanjut ke bank sini. Mungkin untuk buka rekening, tandatangan dokumen asuransi dan surat lain yang terkait. Tapi, setelah itu, Ibu balik lagi ke kantor kami. Kita akad kredit di kantor kami saja. Sampai lewat magrib pun kami tunggu,” ujar saya. “Tunggu sebentar, Pak. Saya sudah dekat. Tadi macet di pintu keluar tol, ” ibu itu mencoba menahan saya. “Mohon maaf, Buk. Tidak bisa. Seperti tadi saja,” jawab saya, tegas.

Alangkah tidak adilnya kita, bila menunggu si ibu yang molor itu. Padahal ada orang lain yang sudah datang lebih awal dan menghargai waktu, yang sudah menunggu.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.