Menyelamatkan Muka

Suatu kali datang kepada kami klien lama dan sangat setia. Beliau mantan pejabat tinggi negara, kini sebagai ketua sebuah yayasan. Ia datang berkonsultasi bahwa yayasan yang diketuainya mau membeli tanah dan bangunan. Ini perlu cepat, karena kalau telat, bisa disambar pembeli yang lain.

Lalu, sebagaimana biasa, kami menjelaskan semua persyaratan dan dokumen yang harus dipenuhi. Pertama, dokumen tentang obyek tanah yang mau dibeli. Kedua, dokumen yang harus dipenuhi penjual dan pembeli. Beliau mengangguk-angguk. Lalu bertanya, bisakah salah satu syarat dari pihak pembeli disusul belakangan? Yaitu dokumen tentang surat persetujuan pembina yayasan. Saya tegaskan, tidak bisa. Sebelum transaksi, semua persyaratan harus lengkap. Surat persetujuan tersebut dimuat dalam komparisi akta.

Hari berikutnya sang ketua yayasan membawa pihak penjual kepada kami . Minta agar kami bisa jelaskan kepada penjual semua persyaratan yang harus dipenuhinya. Di depan pihak penjual, ia menjelaskan bahwa data dari pihak pembeli sudah tersedia seluruhnya. “Jika transaksi ingin cepat direalisasikan, maka segeralah lengkapi dokumen-dokumen dari pihak penjual,” katanya. Mmhhh… padahal saya tahu, ia belum mengantongi surat persetujuan pembina yayasan.

Setelah pertemuan itu, saya mendapat telepon dari salah seseorang pengurus yayasan itu. Diinformasikan bahwa sebenarnya pembina memang belum menyetujui pembelian properti tersebut. Perlu prosedur lain yang sifatnya internal dan waktu yang tepat. Karena itu, pengurus itu berpesan, mohon Notaris jangan mengabulkan permintaan sang ketua untuk buru-buru transaksi. Tentu saja permintaan itu masuk akal, karena bila mau transaksi, toh semua pengurus yayasan perlu tandatangan. Tampaknya pengurus yayasan yang lain sungkan menyampaikan ke ketua. Maklumlah, sang ketua mantan pejabat tinggi berpengaruh.

Nah, di sisi lain, kepada saya, sang ketua mengemukakan bahwa ia telah mengantongi persetujuan pembina. “Persetujuan itu tinggal ditandatangani dan tidak ada masalah,” ceritanya. Saya katakan kembali ke sang ketua bahwa sebelum akad jual beli, persetujuan pembina harus ada lebih dulu. Cara menyampaikannya sangat hati-hati: tidak didengar siapapun dan saya SMS pula secara pribadi. Ya, agar beliau tidak malu.

Kemudian kami dan jajaran asisten terus meneliti data pihak penjual. Satu persatu dicek dan ditelisik kembali. Lalu, benar saja, ada satu “lubang”. Kami menemukan ada dokumen lain yang harus dipenuhi penjual. Kami minta agar dokumen tersebut wajib diurus penjual lebih dahulu. Jadi, transaksi itu, mau tak mau, harus ditunda dan dijadwal ulang.
Kepada sang ketua saya sampaikan bahwa transaksi tidak bisa dilakukan karena ada dokumen dari penjual harus dilengkapi. Dengan embel-embel, demi kepentingan semua pihak, terutama calon pembeli. Jadi, saya tidak menekankan bahwa transaksi ditunda karena surat persetujuan pembina belum ada, tapi karena faktor dokumen penjual. Akhirnya sang ketua bersedia menunda sampai semua terpenuhi. Tentu juga persetujuan Pembina tadi. Mukanya selamat dari malu pada anggota pengurus yayasan dan malu pada penjual.

Membangun komunikasi dengan orang berusia senior, apalagi mantan pejabat petinggi, memang perlu jam terbang dan people skill yang baik. Salah-salah bisa tersinggung dan marah. Untungnya, saya teringat dengan buku karya Les Giblin, penulis dari Prancis. Ia menulis kisah tentang pelanggan sebuah butik yang mengembalikan sebuah gaun. Alasannya, suaminya tidak menyukai gaun itu. “Gaun ini belum pernah dipakai,” aku pembeli gaun kepada pelayan butik.

Pelayan butik memeriksa gaun dan melihat bahwa terlihat gaun itu pernah dicuci. Tanda-tandanya jelas. Tapi pelanggan tetap tak mengakui. Maka, pelayan butik itu memberikan “lubang” pelanggan itu menyelamatkan mukanya karena sudah berbohong. Pelayan itu berkata: “Mungkin salah seorang anggota keluarga telah keliru mengirim gaun ini ke binatu. Saya pernah mengalami hal itu. Waktu itu saya ke luar kota, lalu suami saya mengasihkan gaun itu bersama pakaian lain ke petugas binatu yang menjemput, lalu mencucinya. Nah, mungkin hal ini terjadi juga. Sebab, kelihatan sekali tanda-tanda habis dicuci.” Akhirnya pelanggan itu menerima dan mengakuinya. Sebab, telah diberi celah untuk “meloloskan diri”, agar mukanya selamat.

Jurus pelayan butik ini bisa digunakan juga oleh Notaris dan stafnya. Menyelamat muka orang lain agar tidak dipermalukan. Prosedur wajib dipenuhi, klien tak tersinggung dan tetap setia.

*Dimuat Majalah RENVOI edisi Juli 2015

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.