Menjinakkan Anak Klien Hiperakhtif

Bila ada klien datang ke kantor kami membawa anak-anaknya yang masih kecil, air muka saya langsung berubah. Ada rasa was-was, khawatir dan geram bercampur aduk. Apakah saya tidak suka dengan anak-anak? Tentu saja suka. Sebagai seorang yang juga punya anak, tiga orang jumlahnya, tentu saja saya tidak membenci anak-anak. Bahkan, sangat menyayangi. Saya juga pernah melewati masa punya anak kecil, laki-laki pula semuanya, tapi mereka mudah dikasih tahu dan diajari serta mengerti tata krama.

Yang saya tidak habis pikir, mengapa kebanyakan generasi anak-anak zaman sekarang, terkesan seperti “liar”, cenderung hyperactive, tidak mengerti sopan santun. Juga tidak bisa diatur, tidak bisa ditegur dan dikasih tahu. Bahkan tidak bisa dibentak sekalipun. Mungkin Anda langsung nyelutuk menanggapi pernyataan ini: “Ah, namanya juga anak-anak. Semuanya juga begitu.”

Saya juga sependapat dengan celutukan Anda itu. Tapi yang namanya anak-anak, tentu juga manusia. Seperti manusia dewasa, anak-anak juga sudah punya perasaan, emosi dan kata hati. Bahkan, ketika masih dalam kandungan pun, anak juga sudah punya perasaan sensitif. Tapi mengapa ketika sudah lahir ke dunia dan berusia lima tahun, bahkan sampai sepuluh tahun, malah banyak yang tidak peka dengan aturan sopan santun dan jadi “liar”? Apakah ini karena balita zaman sekarang dibesarkan dengan susu kalengan? Atau korban “lemah otak” karena tiap hari diberi makan oleh orangtuanya dengan mie instan dan junk food? Entahlah.

Yang jelas bila ada klien membawa anak-anak balita atau usia sepuluh tahunan ke kantor kami, membuat saya gemas. Anak-anak itu bikin ribut, berisik, berkejar-kejaran ke sana ke mari. Melempar-lempar kertas. Bahkan tak segan-segan mengambil alat tulis di meja rapat, lalu mencoret-coret meja dan tembok. Padahal, kita sebagai Notaris lagi menyiapkan dan menjelaskan akta buat orangtuanya. Gangguan anak-anak itu mengganggu konsentrasi, bisa membuat kesalahan pada akta yang dipersiapkan.

Betapa tidak. Saya pernah akad nasabah bank yang membawa anak balita. Ketika akad berlangsung, sang anak minta naik ke atas meja. Lalu, dengan enaknya sang orangtua mengabulkan. Anak itu awalnya duduk berjuntai di meja. Lama-lama ia menaikkan kakinya ke permukaan meja di mana saya membacakan akta. Segera dengan reflek saya menyingkirkan minuman yang juga tersaji di meja. Kalau tidak? Air tumpah, maka kenalah sertipikat dan dokumen semuanya. Sementara orangtuanya cuek saja.

Saya pikir, ini orangtua keterlaluan. Mengajarkan anaknya terang-terangan untuk tidak bersopan santun di usia dini. Harusnya orangtuanya bilang bahwa tempat duduk yang benar adalah di kursi, bukan di meja. Eh, ia malah tampak bangga melihat anaknya yang di matanya mungkin tampak lucu, duduk di meja. Padahal itulah awal salah asuhan buat sang anak.

Saya juga pernah menyaksikan pada meja teller sebuah bank, ada nasabah yang mendudukkan anaknya di atas meja teller itu. Petugas teller sih tidak marah. Malah senyum-senyum dan memuji sang anak dengan kata-kata “Wah, lucu anaknya, Buk.” Padahal, pada kali yang lain, pernah terjadi air botolan yang dipegang sang anak tumpah ke monitor komputer teller.

Karena sikap orangtua seperti itu, tidak heran, jika anak balita setelah beranjak remaja, banyak yang “cuek bebek” dengan tata krama, bahkan menjelma dengan berbagai kenakalan remaja. Terbawa-bawa sampai dewasa menjadi kenakalan orangtua. Akhirnya jadilah seperti sekarang: banyak penjahat berdasi, politisi busuk, penyelenggara negara korup, ketika jadi penegak hukum malah jadi penghancur hukum.

Bagaimana cara menegur klien yang membawa anak balita yang hiper aktif ke kantor Notaris? Cukup sulit dan dilematis. Tapi tidak ada salahnya bila disimak nasihat seorang senior saya, spesialis psikologi agama berikut: “Tersenyum saja pada anak itu. Senyum benar-benar dari hati terdalam, niscaya akan melembutkannya. Senyum dengan hati nurani punya kekuatan luarbiasa.” Beliau menambahkan, jangankan kepada anak manusia, bahkan bila bertemu binatang buas pun, kita tidak perlu panik. Senyumi dengan hati nurani, niscaya makhluk itu tidak akan mencelakakan dan menghindar dari kita. Selamat mencoba!

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.