Menjaga Kata

Tiba-tiba saya ingat sebuah seminar bisnis yang saya hadiri, sepuluh tahun lalu. Pembicaranya seorang pengusaha sukses kelas internasional. Ia memaparkan hal yang sederhana, tapi bagi saya, amat menarik. Menurutnya, ada dua hal yang tak mungkin ditarik kembali. Pertama, waktu yang sudah berlalu. Kedua, kata yang sudah dilontarkan.

Saya mencatat baik-baik kalimat itu. Lalu merenungkannya. Betul. Waktu yang berlalu, tidak bisa diulang lagi. Matahari yang kita lihat kemaren pagi, tidak sama dengan matahari pagi ini. Jam delapan pagi tadi, tak bisa kita ulang lagi situasinya jam sembilan ini. Bahkan, menit yang lalu sudah pergi, tak sama dengan menit saat ini. Sang waktu sudah pergi. Bergulir tiada henti. Tak seorangpun bisa menghentikannya, meskipun sedetik saja.

Kata yang sudah terucap, juga begitu. Tak bisa tarik lagi. Memang bisa diralat dengan mengoreksi atau meminta maaf. Tapi kata yang sudah terlontar itu sudah tercatat dalam “database alam semesta”. Jika tulisan bisa dicoret atau di hapus. Akta bisa direnvoi. Namun, kata yang diucapkan, sudah masuk dalam rekaman alam. Dalam bahasa agama: sudah direkam malaikat, kita tak bisa hapus lagi.

Jadi, kita jangan sembarang berkata. Jangan berucap hal-hal yang tidak ditepati alias bohong. Tidak berkata yang menyinggung perasaan, yang tajam melukai hati. Karena kata bak pedang: bila digunakan dengan keras dan tajam, bisa “membunuh”. Bukankah ada pepatah lama: “mulutmu harimaumu”?

Semua orang disarankan cermat berkata. Apalagi kita para Notaris&PPAT. Dengan status sebagai pejabat umum beserta segala kewenangan dan hak yang diberikan undang-undang, kita ibarat akuarium: semua orang memperhatikan. Mulai dari klien yang kita kenal, orang biasa yang sekadar kenal, maupun orang yang tidak dikenal sama sekali. Disadari atau tidak, semua memperhatikan.

Segala hal tentang kita tak luput dari lirikan khalayak. Mulai dari cara berpakaian, tingkah laku, ucapan dan tatakrama. Bahkan keluarga, istri atau suami dan anak-anak, juga diperhatian. Kalau kita berada di tempat umum, misal di mall, bengkel mobil, tempat ibadah, rumahsakit, di ruang tunggu bandara, di pesawat dan sebagainya, menurut pengalaman saya, pasti ada saja yang mengenali. Tanpa kita duga dan sangka, tiba-tiba menyapa, menepuk bahu, mengajukan tangan untuk bersalaman. Ada yang sekadar tersenyum, karena pernah kenal. Padahal, kita sendiri merasa tidak kenal atau mungkin sudah lupa dengannya.

Mengingat posisi kita bagai akuarium itu, kita ditatap orang dari berbagai penjuru. Para penatap itu terdiri dari berbagai latarbelakang. Berbagai karakter, tingkat pendidikan, profesi, berbagai etnis, suku dan agama. Berbagai kebiasaan dan gaya bicara. Jadi, mereka, para penatap itu, sudah seperti menjadi “malaikat” pencatat juga bagi kita.

Dulu, sebelum saya mendengar dan merenungkan kata-kata bijak itu, saya selalu ceplas ceplos. JIka ada hal yang tidak sesuai dengan hati, dijawab dengan pedas. Tidak peduli siapa dan bagaimana perasaan lawan bicara setelah kata-kata pedas tersebut disemburkan. Namun, setelah belajar dari seminar tersebut, saya lebih selektif dan cermat dalam memilih kata.

Pekan lalu misalnya, seorang klien sudah dijadwalkan tandatangan akta. Pada hari yang sudah disepakati, ia tak kunjung memenuhi persyaratan yang diharuskan. Juga tidak memberi kabar, dikonfirmasi pun tidak menjawab. Tiba-tiba esoknya mau datang dan bilang sudah di perjalanan. Saya bilang, hari ini kami sudah ada skedul lain, tak bisa digeser karena menyangkut banyak pihak. Kecuali bersedia menunggu. Lalu, ia melontarkan kata-kata keras. “Tidak bisa seperti ini dong, Pak. Kami semua orang sibuk. Dirut kami hanya bisa hari dan jam ini. Sayapun esok subuh sudah harus ke luar kota.” Saya jawab, “Tapi hari ini saya tidak bisa, Bu, ” Lalu ia mengetes lagi: “Tandatangan itu kan bisa dengan karyawan Bapak saja.” Dengan tenang saya jelaskan. “Mohon maaf. Tidak bisa, Bu. Tandatangan harus di hadapan saya.” “Ah, Bapak sok. Kaku. Saya tidak suka. Kami mau ke Notaris langganan kantor yang dulu saja. Di sana tandatangannnya tidak di depan Notaris, tapi bisa dengan stafnya.” Diserang begitu, saya tetap tenang, sopan dan dengan suara rendah. “Silahkan dengan hormat, Ibu. Tidak apa-apa.”

Dan, saya pun lolos dari pancingan untuk berkata pedas. Lolos juga dari orang yang mencoba menggiring berbuat yang tidak sesuai dengan UU Jabatan.

*Dimuat Majalah RENVOI edisi Juni 2015.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.