Memukul Dengan Memuji

Pernahkah Anda dapat klien yang bertransaksi melalui perantara atau agen properti? Mungkin sering. Perantara itu mungkin perorangan atau agen properti berbadan hukum di bawah waralaba internasional. Adakalanya mereka membantu kita Notaris, ada kalanya juga menyulitkan.

Peran mereka yang positif, misalnya membantu kelengkapan dokumen. Baik berupa obyek properti yang diperjualbelikan, data-data dokumen penjual dan pembeli. Juga berkomunikasi dengan penjual dan pembeli, sehingga informasi yang disampaikan kepada Notaris cukup dari satu tangan yaitu perantara.

Namun, ada kalanya mereka juga menjengkelkan kita Notaris. Beberapa pekan lalu misalnya, kami menyiapkan akta jual beli. Yang mengantar dokumen dan segala sesuatunya ke kantor kami perantara. Semua komunikasi juga melalui dia. Nah, ketika semua biaya dihitung, mulailah perantara itu memainkan perannya. Ia minta agar biaya akta dan pengurusan diturunkan. Kami sudah jelaskan bahwa biaya-biaya itu sudah standar. Tidak mahal dan juga tidak di bawah standar. Normal saja. Setelah dijelaskan apa adanya, untuk sementara, perantara itu tidak “rewel” lagi.

Pada hari transaksi, saat penandatangan akta, pihak penjual dan pembeli sudah hadir lengkap di ruang rapat kantor kami. Juga sang perantara tadi. Nah, sekali lagi, perantara itu mencoba melempar bola kembali. Ia minta biaya akta dan biaya pengurusan lainnya dinego lagi. Kami jelaskan kembali semua perhitungannya di hadapan penjual dan pembeli, terbuka apa adanya. Penjual dan pembeli kelihatan maklum atas angka-angka yang kami sampaikan. Tapi sang perantara, masih juga minta agar biaya itu dipangkas lagi. Saya lihat, ia ingin mencari kesan agar dinilai oleh para pihak sebagai perantara yang berjuang membela custumer. Ya, bak ingin menjadi pahlawan. Dalam hati, tentu saya jengkel. Toh, yang bayar biaya bukan dia. Para pihak juga sudah maklum. Kok dia yang ribut?

Namun, saya segera ingat nasihat Les Giblin, seorang pembicara seminar dan penulis buku pengembangan kepribadian yang legendaris. Katanya, kalau ada orang yang menjengkelkan Anda, carilah sesuatu yang dapat dipuji tentang dirinya. Maka, dengan tenang saya tanggapi “perjuangan” perantara itu. “Wah, Bapak A selaku penjual dan Bapak B selaku pembeli beruntung sekali bisa dibantu oleh Bapak C dalam jual beli properti ini. Semua beliau tangani dengan baik. Penjual senang dan pembeli juga senang. Tentu beliau akan lebih hebat lagi jika kami selaku Notaris yang membuat transaksi jual beli ini menjadi legal dan otentik, juga ikut senang. Betul tidak, Bapak A dan Bapak B?”

Lalu, saya tambahkan kalimat kunci lagi. “Enak lho jadi perantara ini. Komisinya 2,5 persen dari transaksi. Wah, kalau saja fee akta PPAT&Notaris juga bisa setinggi itu, mantap ya?” ujar saya. “Pak Notaris bisa saja,” tanggap sang perantara, melunak. Jadi, “Dengan biaya akta sebesar ini, yang normal dan standar saja ini, seharusnya tidak ada masalah ya,” tutur saya santai. Akhirnya semua menerima.

Hal yang sama juga pernah terjadi sebelumnya. Penjual berprofesi sebagai pengacara, kurator dan pengurus harta pailit. Dari awal bertemu saja, ia sudah bicara agar biaya akta waktu transaksi “digoyang rendah”. Sebagaimana biasa, tiap kali ada yang minta biaya murah, kami seluruh tim di kantor tidak menjawab “ya” atau “bisa digoyang”. Tapi harus dengan kalimat “semua normal dan sesuai standar.”

Sang kurator juga saya perlakukan seperti itu. Dipuji dulu. “Wah, mantap ya, Pak, jadi kurator. Aset yang diurus ratusan milyar bahkan trilyunan. Dan fee-nya 10 persen. Gile banget.” Seperti biasa, orang senang bila orang dipuji, lalu mencoba merendah. “Dulu memang 10 persen. Sekarang peraturannya 8 persen.” jawabnya. Lalu jurus saya masuk: “Wah, bagus banget 8 persen, Pak. Kita Notaris 1 persen saja, ributnya klien bukan main dan minta kurang melulu. Padahal itu sudah sesuai peraturan.” Mungkin merasa tersindir atau memang sudah maklum, ketika kami hitungkan semua biaya, sang kurator akhirnya tak berkomentar apapun soal harga. Langsung bayar, tanpa minta kurang sedikit pun.

Jadi, memukul tidak perlu dengan menyerang. Bila menyerang, semua pihak rugi dan hubungan akan berakhir dengan tidak baik dan penuh kedongkolan. Berbeda dengan memuji. Kita selamat, semua untung, hati senang dan bahagia.

*Dimuat Majalah RENVOI edisi April 2015.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.