Maaf, Warung Tutup

Ketika saya menengok kampung halaman di Sumatera Barat sana bulan lalu, ternyata di depan SMP di mana saya bersekolah dulu, sudah ada kantor Notaris. Padahal, persis di belakang kantor itu, adalah kali di mana masa kanak-kanak, kami sering memancing dan mencari ikan. Jika era Presiden Soeharto dulu ada istilah listrik masuk desa, koran masuk desa dan dokter masuk desa, kini sudah era internet masuk desa dan Notaris masuk (berkantor) di desa. Ya, saat ini sebaran kantor Notaris sampai ke pelosok desa.

Tentu saja itu hal positif. Orang-orang kampung tidak perlu lagi jauh-jauh ke kota bila perlu membuat akta. Tidak juga lagi mengandalkan “kekuasaan” Pak Camat sebagai satu-satunya PPAT Sementara di wilayah itu, bila ada warga desa mau melakukan jual beli tanah dan bangunan.

Namun, saya perhatikan banyak kantor Notaris yang tersebar luas itu justru tidak ada aktivitasnya. Hanya plang nama. Melihat tanggal dan nomor SK pengangkatan yang tertera di plang nama, tampak tanggal SK-nya masih muda. Kantor Notaris itu tutup terus. Siang dan malam lampu hidup, pintu tertutup, tak ada aktivitas apapun. Kalaupun ada yang menjaga, hanya pembantu atau tukang kebersihan saja.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di daerah atau desa-desa. Di kota besar dan di sekitar Jakarta banyak juga. Suatu ketika, sebagai pribadi, saya perlu membuat perjanjian dengan pihak lain. Perjanjian itu perlu otentik, notaril. Tentu saja sebagai Notaris, saya tidak bisa membuatnya sendiri. Lalu, saya datang ke kantor Notaris di sekitar tempat tinggal saya.

Saya sengaja memilih kantor Notaris yang baru. Ya, sekalian mau berkenalan sesama kolega baru, sekaligus memberinya pekerjaan yang, siapa tahu, bisa memotivasi. Tentu saya akan membayar biayanya profesional. Tidak seperti kebanyakan rekan Notaris lain yang kepada sesama rekan sering minta diskon dengan alasan teman atau sesama profesi, saya justru bermaksud membayar jasanya sesuai tarif yang berlaku dan lazim. Kita paham, Notaris baru mungkin masih banyak pengeluaran daripada pemasukannya.

Namun, apa dinyana. Betapa terkejutnya saya. Sudah empat kantor Notaris baru yang saya datangi, tidak seorangpun Notaris yang berada di tempat. Ya, seperti disebut tadi, ada yang kantornya tutup, terkunci dengan lampu teras hidup terus siang malam. Ada kantor yang buka, tapi ditunggui pesuruh dan tukang kebersihan. Ketika saya tanya ke mana bapak atau ibu Notaris-nya, jawabannya sama: baru datang bila ada perjanjian atau bila ada klien yang datang. Jadi, bila ada yang mau buat akta, barulah sang Notaris ditelepon untuk datang. Bila tidak ada, kantor tutup atau cukup dijaga office boy. Menurut keterangan yang menjaga, rumah sang Notaris cukup jauh dari kantor bahkan ada yang di kota lain. Apakah Notaris seperti ini tidak serius menjalankan jabatannya? Lalu, timbul pemikiran: perlukah diusulkan ke Menhum agar SK-nya dikasih ke calon Notaris lain yang serius saja?

Apa yang ada dalam pikiran para Notaris seperti itu? Mungkin efisiensi. Daripada datang ke kantor yang belum ada klien, lebih baik di rumah atau mengerjakan hal yang lain saja dulu. Menurut saya, pola pikir seperti itu tidak tepat, bahkan keliru.

Kantor Notaris, persis ibarat warung. Jika warung sering tidak buka atau sering ditutup, apakah ada orang yang mau belanja ke sana? Jelas tidak ada. “Ah, warungnya tutup melulu,” mungkin begitu komentar orang. Atau mungkin ada yang menyangka warung tersebut sudah bangkrut. Anda mau, disangka sebagai Notaris bangkrut?

Urusan ke kantor Notaris bukankah sering tak cukup dengan hanya sekali datang, bahkan butuh berkali-kali. Jika kantor sering tutup daripada buka, bagaimana orang mau percaya? Ibarat warung, bila buka terus menerus, meski belum ada pengunjung, maka dalam perspektif masyarakat, warung tersebut aktif. Lambat laun akan banyak pengunjung. Begitu juga kantor Notaris. Jadi, jangan menunggu klien dulu baru buka kantor, tapi bukalah kantor terus menerus, maka klien akan datang. Logika sederhana: kantor yang buka terus menerus saja belum tentu didatangani klien, apalagi yang sering tutup.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.