Korban Kelakuan Klien

Aksi mogok para Notaris dan PPAT se-Papua dan Papua Barat yang dilanjutkan demo besar-besaran dan didukung oleh rekan-rekan Notaris di Jakarta 30/10 lalu, sunggguh sebuah catatan sejarah. Belum pernah kita mendengar sebelumnya, para pejabat umum itu berdemo menyampaikan protes. Selama ini para Notaris dan PPAT kompromis saja dengan berbagai situasi. Ya, Notaris dan PPAT selama ini tergolong profesi dan jabatan yang tak pernah ribut-ribut. Mungkin ada masalah, tapi bisa ditangani tanpa banyak gejolak.

Namun, jika terus-menerus ada yang berbuat sewenang-wenang kepada para Notaris, maka pepatah “semut pun bila diinjak akan menggigit”, bisa berlaku. Para Notaris di seluruh Indonesia bisa menggalang kekuatan bersama melawan kesewenang-wenangan. Tidak usah seluruh Indonesia, bayangkan bila Notaris se-Jabodetabek saja mogok. Bisa berhenti roda ekonomi nasional bergulir.

Betapa tidak. Coba, tidak ada transaksi jual beli rumah dan tanah, tidak ada akad KPR, tidak ada perjanjian kredit modal kerja dan investasi, tidak ada akad kredit untuk pengusaha mikro dan UKM. Tidak ada pengikatan jaminan fidusia kendaraan bermotor. Tidak ada proses pendirian dan perubahan badan hukum, tidak ada perjanjian apapun yang dibuat.

Bayangkan bila Notaris dan PPAT se-Indonesia berhenti memberikan pelayanan apapun. Pajak peralihan hak atas tanah (PPh jual beli dan BPHTB) yang merupakan peran terbesar para Notaris kepada ekonomi nasional, tidak mengalir ke kas negara. PNBP juga tidak masuk ke bendaharawan negara. Kantor Pertanahan juga tidak ada pendapatan. Yang jago hitung-hitungan ekonomi, tentu tahu, betapa dahsyat dampaknya. Dunia usaha terhenti semuanya. Masyarakat luas tak terpenuhi kebutuhannya. Jika situasi itu terjadi, gelojak sosial, tidak bisa dihindarkan dan tentu bisa berimbas menjadi gejolak politik juga.

Kita bukan mengancam atau menakut-nakuti. Cobalah pihak-pihak yang menzalimi para Notaris dan PPAT serta para penguasa di negeri ini berpikir sejenak. Jika Notaris dan PPAT mogok semuanya, 11.000 orang jumlahnya, bangkrutlah negara ini. Jangankan bicara mengantisipasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, bicara ekonomi negara saat ini saja, bisa kalang kabut semuanya. Bagaimana tidak? Heboh soal kenaikan harga BBM saja masih terus berkepanjangan, ditambah lagi dengan mogok para Notaris. Ekonomi negara ini bisa jatuh pailit.

Para klien pengguna jasa Notaris, juga diharapkan kejernihan pikirannya. Notaris diberikan amanah oleh undang-undang untuk membuat perjanjian yang dibuat punya kekuatan otentik. Diberi wewenang oleh negara memakai cap Lambang Negara. Lambang yang sama yang juga digunakan oleh Presiden. Jelas sesuatu yang luhur, bermartabat dan terhormat. Meski begitu, Notaris tidak gila hormat. Tolong hargai saja secara proprorsional.

Merujuk pada kasus Theresia Pontoh, sejawat Notaris di Papua, sungguh aneh sikap para penegak hukum. Rekan itu belum membuatkan akta jual beli (AJB). Untuk membuat AJB ada persyaratan yang harus dipenuhi. Yang membuat daftar persyaratan itu bukan Notaris&PPAT. Tapi peraturan perundang-undangan yang mengharuskannya. Nah, jika persyaratan belum dipenuhi, lalu PPAT tidak membuat AJB, itu adalah wujud kepatuhan PPAT pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Justru pihak-pihak yang mau bertransaksi, jika tidak memenuhi persyaratan yang diharuskan peraturan perundangan-undangan, adalah pihak yang melawan hukum. Kenyataannya, justru Notaris dan PPAT yang taat hukum yang dikriminalisasi. Entah bagimana para penegak hukum di sana memahami logikanya.

Peristiwa yang menimpa rekan Notaris di Papua ini menjadi pelajaran. Betapa kita harus ekstra hati-hati menghadapi klien. Karena kelakuan klien, kini memang macam-macam. Seribu satu variasinya. Awalnya mereka datang ke kantor kita baik-baik. Kita tentu melayaninya dengan baik juga. Tapi situasi bisa berbalik jika bertemu calon klien yang datang dengan niat lain yang tidak diketahui.

Sudah bertindak sangat berhati-hati pun, masih ada yang jatuh karena kelakukan klien. Apalagi bila sembrono dan mencoba bergaya koboi pula. Jika ada Notaris&PPAT yang seperti disebut terakhir, tidak akan dibela oleh rekan-rekan korps-nya. Mari terus waspada dan penuh kehati-hatian, agar tidak jadi korban kelakuan klien. Yakini bimbingan dan perlindungan Tuhan, karena Notaris adalah profesi keahlian yang disebut dan diakui Kitab Suci.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.