Ketika Ditodong Rp 500 Juta

Anda Notaris&PPAT rekanan bank-bank? Ada enak dan ada tidak enaknya. Enaknya punya klien perbankan, kliennya ada terus bahkan bisa bertambah banyak. Ada terus, karena bank juga punya target menyalurkan kreditnya. Otomatis butuh akta notaril dan pengikatan jaminan. Bisa bertambah banyak, karena nasabah perbankan bisa menimbulkan efek multiplikasi.

Nasabah bank yang sudah akad dengan kita, bisa menjadi klien pribadi juga. Jika ada klien nasabah bank membuat perjanjian kredit dan pengikatan jaminan, kita bisa “ketularan” untuk membuat akta-akta lainnya. Misalnya pembuatan PT baru, perubahan anggaran dasar, jual beli saham, jual beli tanah dan bangunan dan lain-lainnya. Bila pegang bank, tiap hari ada saja akad dan pembuatan akta. Tidak jarang, dari suatu nasabah bank, urutan akta yang didapatkan punya efek domino yang panjang.

Di lain pihak, ada juga tidak enaknya. Ini sudah dimulai dari proses awal menjadi rekanan. Untuk jadi rekanan bank, biasanya bank meminta Notaris untuk mengajukan surat permohonan dengan melampirkan setumpuk fotokopi dokumen. Mulai dari identitas diri, kartu NPWP, SK pengangkatan Notaris dan PPAT, riwayat hidup, kartu keanggotaan organisasi, daftar pegawai dan lain-lainnya. Ibaratnya, Notaris seperti mau melamar pekerjaan ke bank yang bersangkutan. Dari segi itu saja, banyak rekan-rekan Notaris enggan jadi rekanan bank. Seperti terganggu independensinya. “Kayak mau melamar kerja saja. Saya mau bebas, tak mau terikat sama pihak bank,” ujar seorang rekan.

Jika persyaratan yang diminta hanya yang bersifat kelengkapan administratif, mungkin masih lumayan. Sebagian rekan Notaris dapat memaklumi. Karena, untuk pihak lain yang menjadi rekanan bank, seperti perusahaan penilai, asuransi jiwa, asuransi kerugian dan lain-lainnya, persyaratannya juga sama. Namun, ada syarat lain yang membuat banyak rekan Notaris menjadi sinis. Nah, kalau yang ini saya juga tidak suka. Apa itu? Keharusan menaruh dana dalam bentuk deposito yang jumlahnya cukup fantastis. Soal ini saya punya catatan unik.

Kami punya klien developer. Bank yang memberikan fasilitas KPR tentulah harus rekanan developer sekaligus rekanan bank. Suatu ketika, ada konsumen yang memilih bank yang bukan rekanan kami. Maka, developer meminta kami agar mengajukan permohonan untuk jadi rekanan bank itu. Kami setuju, di samping membantu konsumen pengembang itu, siapa tahu juga bisa menambah basis pelanggan.

Setelah semua persyaratan administratif dipenuhi, tanpa saya duga, pihak bank calon rekanan tadi menyampaikan persyaratan tambahan bahwa kami harus membuka rekening deposito di bank itu. “Minimal Rp 500 juta. Ini pesan Ibu Kepala Cabang,” ujar legalnya. Pihak developer kaget, saya lebih kaget lagi. Apalagi sebelumnya hal ini tidak pernah dibicarakan.

Namun, saya mencoba tenang dan berpikir positif. Ya, harus berpikir positif. Pertama, walau saat itu belum punya, tapi ada yang menyangka bahwa kita punya uang sebesar itu. Siapa tahu menjadi doa dan afirmasi , di mana akhirnya kita jadi benar-benar punya deposito senilai itu. Kedua, saya jadi tahu bahwa apa yang dikeluhkan rekan-rekan Notaris, terutama di daerah-daerah, ternyata benar adanya. Di kalangan sejawat di daerah memang santer kabar itu. Mereka mengeluh tidak bisa menjadi rekanan bank karena dipersyaratkan menaruh uang deposito dalam jumlah besar.

Pada waktu pertemuan dengan kepala cabang bank itu, saya sampaikan bahwa saya bersedia menjadi rekanan. Tapi jika dipersyaratkan begitu, saya tidak bisa memenuhinya. Lalu, angkanya diturunkan jadi Rp 300 juta. Saya juga tak mau. Diturunkan lagi jadi Rp 250 juta. Saya juga tak mau. Diturunkan lagi Rp 200 juta, sampai akhirnya Rp 100 juta. Apakah saya mau?

Dengan tenang dan tetap tersenyum, saya ucapkan terimakasih atas persangkaan baiknya bahwa kami punya uang banyak untuk didepositokan. Nah, berhubung baru mau jadi rekanan, tentu belum ada pemasukan. “Belum masuk sudah harus keluar. Ini kan tidak enak, Bu. Harusnya masuk dulu, berkali-kali, baru keluar, kan sama-sama enaaak…,” lalu ibu kepala cabang dan pihak developer terpingkal-pingkal. Sambil berasosiasi dengan pikiran masing-masing.

Akhirnya suasana cair. Untuk jadi rekananan bank itu, saya hanya membuka rekening tabungan biasa dengan saldo awal cukup Rp 500 ribu. Bukan deposito Rp 500 juta tadi. Jadi? Rileks dan senyum saja.

*Dimuat Majalah RENVOI edisi Januari 2015.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.