Kenaikan Harga BBM dan Biaya Akta

SEORANG rekan Notaris di Bekasi, cukup senior, dalam status facebook-nya menulis begini: “Harga BBM naik, tarif jasa profesi Notaris juga naik.” Saya menyukai status rekan tersebut. Karena memang begitulah seharusnya.

Betapa tidak. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), otomastis juga menaikkan semua biaya operasional kantor Notaris, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Internal misalnya harga kertas, tinta, toner dan ongkos fotokopi, listrik, percetakan, ongkos kurir, pemeliharaan gedung, pemeliharaan AC dan sebagainya, semua naik. BBM motor dan mobil operasional kantor, sudah pasti. Tentu gaji dan tunjangan karyawan, perlu disesuaikan pula. Sebab, harga kebutuhan pokok membubung dan ongkos transportasi melambung. Dari segi eksternal, juga demikian. Biaya operasional pengurusan dokumen di instansi terkait tak mau ketinggalan: pasti ikut naik.

Jika biaya di atas semuanya naik, bagaimana dengan harga akta dan jasa Notaris dan PPAT? Faktanya belum tentu demikian. Bahkan bisa jadi kebalikannya. Mengapa?

Soalnya bicara masalah harga honoriumnya, para Notaris seakan dijepit. Di satu sisi pengeluaran meningkat. Sementara pada sisi lain pemasukan tak banyak meningkat karena harga sulit diangkat. Para klien tak henti-henti menawar harga, minta diskon ini dan itu. Sudah dijelaskan bahwa harga ini sudah standar, tidak mahal, tapi tetap saja minta potongan. Dalih mereka sederhana: di Notaris sana bisa. Jadi, mengadu domba sesama rekan.

Serangan minta pengurangan harga jasa Notaris tidak hanya dilakukan klien individual, tapi juga dari korporasi dan perbankan. Tentang ini saya punya pengalaman nyata. Suatu ketika bank rekanan kami menyerahkan sertipikat untuk dibuatkan akta pengikatannya. Lalu, ia minta dihitungkan pajak dan biaya-biaya. Dari akta jual beli, balik nama, akad pembiayaan, SKMHT dan APHT. Ya, agar nasabah bank tersebut menyiapkan dananya lebih dahulu sebelum akad.

Setelah perhitungan biaya kami berikan, tak lama sesudahnya, marketing officer bank tersebut menelepon saya. “Pak, kurangi lagi deh biayanya.”

“Kenapa, Mbak? Hitungan tersebut kan sudah standar sebagaimana biasanya. Kita kan sudah bertahun-tahun jadi rekanan. Dari dulu tarifnya seperti itu, tidak pernah naik. ”

“Iya, tapi nih ada rekanan Notaris lain yang menawarkan lebih murah?” Lalu, saya kejar, siapakah gerangan rekan Notaris yang mengajukan angka di bawah standar tersebut. Ia menyebutkan sebuah nama.

“Bolehkah disebutkan angkanya, Mbak?” Lalu, ia menyebutkannya. Astaga, angka biaya akta yang ditawarkannya lebih dari separuh dari yang biasa dan standar yang kami pakai selama ini. Bak pesta diskon di pasar kakilima: harga dari rekan itu dibanting habis. Gila!

“Kalau begitu, silahkah pilih saja, Mbak. Jika mau kami bantu, harganya sesuai standar yang sudah disampaikan tersebut. Jika tidak berkenan dengan harga itu, silahkan ambil lagi berkasnya dan pergi saja ke Notaris yang lebih murah itu,” kata saya tegas. Sambil dalam hati berkata bahwa kami memang bukan Notaris murahan.

Begitulah officer bank: membela matian-matian, menyenangkan hati nasabahnya. Demi memberikan pelayanan terbaik kepada debiturnya. Sementara kita Notaris ditekan-tekan. Yang membuat saya lebih terkejut adalah sejawat Notaris itu. Padahal satu wilayah kerja, menjadi rekanan bank yang sama pula. Ia membanting harga akta lebih dari separuhnya, demi mendapat banyak order.

Maukah Anda menjadi Notaris murahan? Terserah tentu. Tapi saya sarankan: jangan!!! Siapa lagi yang menghargai profesi dan jabatan kita selain diri kita sendiri? Bila Anda ke dokter, misalnya, lalu dokter atau kasirnya menyodorkan kwitansi pembayaran jasa dokter dan obat-obatan, apakah Anda mau berdebat minta diskon atau minta kurang? Jika ada yang melakukannya, niscaya sebelum diperiksa dan ditangani, bakal dipersilahkan pulang dengan hormat .

Jika para Notaris di Papua bisa kompak mogok dan melakukan demonstrasi di Jakarta tempo hari membela rekan yang dikriminalisasi, maka dari segi tarif jasa profesi pun, seharusnya para Notaris juga bisa kompak seperti itu. Toh, sudah ada acuannya di UUJN dan Peraturan Kode Etik. Jangan mau lagi dilelang menjadi paling murah oleh pihak pengguna jasa.

Jadi, harga BBM naik, tarif harga akta juga naik? Ya, iya lah….

*Dimuat Majalah RENVOI edisi Desember 2014.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.