Kebohongan Klien

Sebagai Notaris/PPAT, pernahkah Anda dituduh bohong oleh klien atau calon klien? Saran saya jangan pernah sekali-kali menerima tudingan itu. Karena, dengan berpegang pada UU dan sumpah jabatan, tidak mungkin seorang Notaris berbohong. Yang paling sering bohong itu justru mereka, klien dan calon klien itu.

Tidak percaya? He he saya berani mengatakan bahwa para klien yang mau melakukan transaksi jual beli di hadapan PPAT, 90 persen membohongi Notaris&PPAT. Apalagi yang dibohongi bila bukan harga transaksinya. Mereka tidak pernah memberikan keterangan yang sebenarnya kepada PPAT, berapa harga jual beli sesungguhnya. Transaksi Rp 1 Milyar misalnya, biasanya yang diakui tak sampai separuhnya. Bahkan ada yang mengaku hanya 30 persen dari transaksi riilnya yang angkanya tak jauh dari NJOP.

Kebohongan angka transaksi kepada PPAT, tidak hanya untuk jual beli tunai. Bahkan untuk jual beli yang dibayar secara bertahap pun, di mana belum bisa dilakukan pembuatan Akta Jual Beli, tetapi dengan membuat akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli, para klien pun banyak yang berani merekayasa angkanya. Padahal, tindakan seperti itu gila dan sangat membahayakan keduabelah pihak bila terjadi wanprestasi di kemudian hari. Tapi, ya itulah kelakukan para klien, kebohongan tersebut tetap dilakukan.

Untuk apa para klien itu membohongi Notaris? Apalagi bila bukan untuk “mengerjain” dalam menghitung biaya akta. Mereka mau menekan biaya. Makin rendah harga transaksi yang diakui, makin rendah biaya akta yang dibayar ke Notaris. Sudahlah berbohong seperti itu, lalu masih banyak juga para klien yang ngotot minta diskon lagi. Wah-wah, sunggguh terlalu. Sepertinya yang berhak dapat keuntungan mereka saja, sedang Notaris cukup kebagian kerja dan tanggungjawabnya. Mungkin karena itu pulalah, Pemda tertentu belakangan menaikkan harga NJOP sampai 200 persen. Sebab, pemerintah mungkin tak ingin dibohongi para penjual dan pembeli juga soal pajak dari peralihan hak atas atas tanah dan bangunan.

Jelaslah, jika Direktorat Jenderal Pajak menuding para Notaris tidak benar membayar pajak, adalah hal yang amat keliru. Justru masyarakat luas yang menggunakan jasa Notaris selaku wajib pajak yang selalu membohongi para Notaris. Tidak hanya itu, mereka juga sering menekan para Notaris soal biaya akta. Notaris sering “dilelang”, “diadu-adu” soal biaya akta. Celakanya, banyak pula Notaris yang terjebak arus permainan adu domba para klien. Sehingga terjadilah banting-banting harga.

Bagi saya, jika “diadu” bahwa Notaris lain lebih murah, maka kepada yang bersangkutan saya tembak langsung saja: “Jika Notaris lain itu lebih murah, logikanya tentu Anda tidak datang ke kami. Mengapa tidak ke sana saja, ke yang murahan itu?” Akhirnya ketahuan bahwa mereka ternyata hanya “ngetes” dan mengadu domba.

Bicara soal kebohongan klein, ada lagi pengalaman menarik. Ceritanya, suatu hari kami sudah dijadwalkan akad nasabah sebuah bank. Tiba-tiba, pihak legal bank memberi tahu kami bahwa tanda tangan akta harus dilakukan di rumah debitur, sebab yang bersangkutan sakit. Karena konsekuen dengan peraturan jabatan, walau nasabah bank sakit, saya menyanggupi pergi bersama legal bank untuk datang ke rumah nasabah. Maklum, ia sakit. Dalam bayangan saya, ia istirahat di tempat tidur atau susah berjalan.

Rumahnya lumayan jauh, lewat jalan-jalan kecil yang pas hanya untuk satu mobil. Bila berpapasan dengan mobil lain, jalan macet tak ketulungan, karena pengendara motor pun menyorongkan barangnya di celah sempit. Sudahlah saya bersusah-susah ke rumahnya, eh, begitu sampai di rumahnya, saya dapati nasabah bank itu segar bugar dan ketawa riang saja. Tidak ada tanda-tanda sakit. Terus saya tanya: “Bapak sakit apa?” Tahukah Anda jawabnya? “Ngantuk saja. Semalam begadang,” tuturnya enteng. Segera saya sadar bahwa saya sudah dibohongi. Tapi, ternyata hukum karma berlaku. Esoknya saya dapat cerita bahwa yang bersangkutan ternyata menjadi benar-benar sakit bahkan sampai dirawat inap. Nah, begitulah bahaya membohongi Notaris. Berdalih sakit, jadi sakit benaran.

Sejak peristiwa itu, jika ada permintaan tandatangan di lokasi rumah nasabah, kami mengenakan biaya tambahan. Bila lokasinya lebih jauh, tambahannya lebih tinggi. Sehingga klien jadi berpikir ulang untuk bohong atau minta diistimewakan agar didatangi ke rumahnya dengan alasan sakit, sibuk, tidak bisa meninggalkan anak dan alasan lainnya. Sedangkan bila benar-benar dirawat di rumahsakit, kita datang tanpa mematok biaya tambahan.

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.