Gertak Ala Calo

Seringkali transaksi jual beli tanah dan bangunan (properti) melibatkan perantara yang menghubungkan penjual dengan pembeli. Istilah kerennya mediator. Istilah lugasnya calo. Sang mediator ini, bagi kita para Notaris&PPAT, adakalanya memberi manfaat positif, tapi tidak sedikit pula yang menimbulkan masalah negatif.

Perantara jual beli properti, ada dua ketegori. Pertama, mediator tradisional. Kedua, mediator profesional. Mediator profesional, biasanya sebagai sales associate tergabung dengan perusahaan agen properti waralaba asing atau lokal. Mereka terdidik, karena perusahaannya punya program pelatihan reguler, sudah ada standar baku soal operasional, prosedur, rumus perhitungan komisi, jenjang karir dan lain-lain. Standar itu bahkan berlaku internasional.

Kali ini kita bahas soal mediator tradisional. Perantara jenis ini biasanya hanya punya informasi ala kadarnya. Mereka tidak pernah menempuh pelatihan menjadi broker. Ia tahunya suatu properti mau dijual, lalu mencoba “memasarkan” secara MLM alias mulut lewat mulut. Karena dipasarkan dengan cara “MLM” tadi, tidak jarang urutannya jadi panjang. Dari orang pertama sampai terakhir ke tangan pembeli yang sebenarnya, bisa belasan bahkan puluhan orang.

Saya pernah membuat akta jual beli yang ternyata calonya saja, belasan orang. Pada saat proses transaksi, kami tegas: hanya mau berhubungan langsung dengan pihak penjual dan pembeli. Kalau ada urusan perantara, itu urusan internal penjual dan pembeli. Tadinya, para perantara itu masuk ke ruang tamu kantor kami. Bahkan ada yang mencoba ikut-ikutan masuk ke ruang rapat tempat pembacaan akta. Tapi karena kami tegas, akhirnya mereka menunggu di halaman kantor saja. Saking ramainya mereka di luar, ada yang mengira di kantor kami lagi ada demo.

Perantara ini, model calo jalanan. Ada beberapa ciri dari mediator tradisional ini. Antara lain, mereka mematok komisi sampai 2,5% dari harga jual. Yang membayar komisi tentu penjual. Tapi tidak jarang pula mereka juga minta komisi lagi kepada pembeli. Atau bahasa lainnya “uang tunjuk”. Jadi, kiri-kanan kena. Lalu, satu lagi cirinya: mereka bisa menaikkan harga properti, di mana sisanya yang di-mark up itu, dibagi-bagi lagi dengan sesama perantara. Bahkan, ke Notaris pun berani minta komisi akta.

Enak dong? Belum tentu. Karena karakteristiknya yang mau untung besar dari satu transaksi dan terkesan serakah, seringkali susah dapat pembelinya. Karena harganya sudah dinaikkan, tentu saja calon pembeli juga berpikir ulang. Sudahlah kena komisi tinggi, harga juga sudah diatur, ya tentu saja banyak calon pembeli yang mundur.

Satu lagi ciri makelar tradisional ini, kebanyakan mereka tidak mengerti hukum jual beli. Dokumen-dokumen yang apa yang harusnya dipersiapkan untuk proses jual beli, tak jelas baginya. Modalnya hanya informasi properti dijual dan fotokopi sertipikat kumal, hitam dan tidak jelas dibaca, karena sudah berkali-kali difotokopi. Pokoknya, amat tradisional.

Bagi kita Notaris&PPAT, jika yang datang jenis calo jalanan ini, cukup dilematis. Tidak dilayani, susah. Karena yang pegang data mereka. Penjual atau pembeli memang mempercayakan ke mereka. Dilayani juga susah. Karena mereka tidak mengerti persyaratan jual beli atau pura-pura tidak mengerti. Sebab, mereka mau mudahnya saja, tak mau repot dengan persyaratan ini dan itu. Yang penting transaksi terjadi dan mereka dapat komisi. Lalu, para calo jalanan ini juga berani “kurang ajar” pada Notaris.

Pernah suatu ketika, kami sudah menerima berkas dokumen asli (sertipikat dan lain-lain) dari penjual. Lalu, penjual minta dihitungkan pajak dan biaya-biayanya. Setelah kami hitung beban masing-masing pihak sesuai ketentuan yang berlaku, lalu kami email ke penjual. Penjual yang merupakan klien loyal kami, menginformasikan perincian biaya itu kepada perantaranya. Tujuannya agar pihak pembeli juga tahu dan menyiapkan pajak dan dana yang menjadi bebannya. Eh, calo itu langsung nongol ke kantor kami. “Kok biayanya mahal begini nih,” katanya dengan nada tinggi. Lalu, seperti biasa, mencoba membanding-banding dengan Notaris yang konon dikenalnya. “Saya sih punya Notaris juga, tapi penjualnya tak mau ke Notaris saya, maunya tetap ke sini,” omelnya. Staf kami dengan sabar menjelaskan bahwa semua sudah sesuai ketentuan dan menjelaskan rumus perhitungannya. Tapi, calo itu malah makin garang: “Kalau biayanya tidak bisa seperti Notaris saya, berkas sertipikat saya tarik!” Kurang ajar sekali kan, calo itu? Yang punya sertipikat dan menyerahkan sertipikat klien kami, yang mau menarik berkasnya dia. Pakai suara garang lagi.

Ulah calo tersebut saya laporkan ke pemilik properti. “Bu, perantara ini tampak tidak benar. Saran kami, Ibu jangan terpancing dengan permainannya. Kami, sebagaimana Ibu tahu selama ini, selalu proporsional dan profesional. Kami mau usir calo itu, tapi sebelumnya mohon ia dikasih tahu agar sopan kepada kami Notaris. Kami pejabat umum yang cap jabatan saja Lambang Negara. Jangan main-main ya.” Akhirnya calo tersebut dimarahi penjual. Belakangan terungkap, upaya dia menggertak harga itu, tak lain agar dapat selisih harga biaya aktanya, untuk dikantonginya sendiri. Dasar calo jalanan! Jadi, Notaris&PPAT jangan mudah terpancing dengan gertak bulus ala calo.

Featured Image Credits: Pexels

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.