Diskon Harga Akta

Ketika saya menulis catatan ini, tadi malamnya saya ke dokter THT di sebuah rumah sakit terkenal di kota kami. Saya bersama putra kami ke dokter itu karena belakangan telinga kami sering gatal. Ketika mendaftar sebagai pasien baru, di depan kami membayar biaya administrasi dan jasa dokter sejumlah Rp 230.000. Lalu, usai dari dokter, untuk ambil resepnya saya ditagih membayar biaya dokter Rp 450.000.- “Bukannya tadi biaya dokter sudah dibayar di depan, Mbak? tanya saya. “Kalau yang tadi biasa jasa dokter. Yang ini biaya tindakan dokter,” jawabnya. Ternyata di samping ada uang “jasa dokter”, juga ada biaya “tindakan dokter” yaitu intip lubang kuping. Saya baru. Maklum, puji syukur pada Tuhan, saya dan keluarga selalu sehat sehingga jarang ke rumahsakit. Kalaupun sekarang ke sana, ya, hanya urusan gatal telinga.

Ketika mengambil obat, kami ditagih lagi Rp 920.000. He he…, untuk urusan gatal telinga saja, malam itu saya merogoh kantong totalnya Rp 1,6 juta. Wow, bagaimana bila sakit yang serius? Apalagi dirawat inap pula? Betapa dalam kantong harus dirogoh bila sakit. Namun, hebatnya, semua pasien di rumahsakit tidak ada yang protes soal biaya. Apalagi mencoba melakukan menawar-nawar alias minta diskon.

Berbeda dengan biaya akta. Sebagai Notaris, Anda pasti sering mengalami hal yang sebaliknya. Kita sering ditawar. Dimintai diskon atau rabat. Pokoknya minta harga dikurangi. Permintaan tersebut saya golongkan 4 kategori yaitu sopan, kurang sopan, tidak sopan dan kurang ajar.

Klien kategori “sopan” yaitu minta pengurangan maksimal 10%. Kategori “kurang sopan” yang minta diskon 10 sampai 30%. Sedang yang termasuk kategori “tidak sopan” minta pengurangan sampai dengan 50%. Kategori yang minta diskon di atas 50%, mohon maaf, saya masukkan pada kategori ‘kurang ajar”. Bagaimana dengan yang minta diskon 100% alias gratis? Ini justru bisa diterima sebagai pelaksanaan Pasal 37 UU Nomor 30 Tahun 2003 tentang Jabatan Notaris, asalkan yang bersangkutan membawa Surat Keterangan Tidak Mampu dari Lurah. Sebagai Notaris yang taat pada Undang-Undang, kita wajib memberikan pelayanan gratis bila ia tidak mampu yang dibuktikan dengan “surat miskin”.

Saya tidak tahu, apakah rekan-rekan Notaris pernah kedatangan calon klien yang membawa “surat miskin”. Di kantor kami, hampir 14 tahun saya menjalankan jabatan Notaris, hal itu belum pernah terjadi. Sebab, menurut pengalaman kita, orang-orang yang mau buat akta notaris, jarang sekali—kalau tidak bisa dikatakan tidak pernah, orang miskin. Hampir semuanya orang berduit. Jadi, kalau mereka sering menawar-nawar harga akta, tentu itu bukan karena ia tidak beruang, tapi ada beberapa kemungkinan. Pertama, memang dasarnya orang pelit. Kedua, mau “ngetes” Notaris. Ketiga, orang itu mungkin ada gangguan urat syaraf otak, sehingga tidak bisa menghargai nilai sebuah akta otentik yang dibuat oleh seorang pejabat umum yang diberi wewenang oleh undang-undang dan negara, sehingga cap jabatannya pun berupa Lambang Negara.

Mereka lupa, untuk sampai berwewenang membuat akta otentik, seorang Notaris harus menempuh proses amat panjang. Lulus Sarjana Hukum saja tidak bisa, harus sekolah dan lulus Program Spesialis Notariat atau Magister Kenotariatan (bahkan kedua-duanya sekaligus), lalu lulus ujian Kode Etik dan ujian PPAT. Untuk mendapat SK juga penuh liku-liku, setelah itu diambil sumpah jabatan. Cukup? Belum. Meskipun telah sudah berwenang membuat akta otentik, tentu perlu buka kantor. Beli ruko atau gedung. Jika belum mampu sewa dulu. Cukup? Belum juga. Beli inventaris kantor, pasang papan nama, computer beberapa unit, printer, pesawat telepon dan faks, mesin fotokopi, mesin ketik manual, dan semua perlengkapannya. Juga rekrut pegawai. Belum lagi biaya operasional dan gaji pegawai. Apakah semua itu murah? Jawabannya huruf kapital semua: TIDAK, biaya yang dikeluarkan amat buanyaaak.

Yang minta diskon dalam kategori “sopan”, mungkin masih bisa pertimbangkan. Tapi yang minta dikurangi pada level “tidak sopan” bahkan level “kurang ajar”, itu keterlaluan. Apalagi dengan membanding-bandingkan, menyebut nama seorang rekan Notaris yang katanya kenal bahkan mengaku saudaranya. Bila sudah begitu, kita sering tidak sabar dan berkata: “Kalau begitu, silahkan pergi ke sana saja, Bapak dan Ibu.” Lho? Mengapa ia datang ke tempat kita jika memang di sana lebih murah? Mengapa ia datang ke kantor kita jika memang ada saudaranya yang juga Notaris? Jelas tujuannya hanya ngetes.

Kita juga sering mendengar pernyataan klien yang bikin gemas. “Mengapa biaya akta mahal begini? Ini kan hanya beberapa lembar kertas. Isinyapun copy paste, ketik data pihaknya, tandatangan, lalu dicetak. Mengapa harus dibayar sekian rupiah?” Ada juga begini: ini biaya aktanya sama dengan harga sebuah motor baru. Mahal! Maka, saya pun menjawab santai: mahal dibandingkan apa? “Jika Bapak menilainya dengan motor, bisa juga dong kita belikan kerupuk : bisa menutupi jalan sekota ini.” Kita perlu edukasi calon klien. Tidak bisa membandingkannya dengan harga sebuah barang. Ini nilai sebuah dokumen hukum yang dijamin otentitasnya. Nilainya immaterial, bahkan bisa tidak terhingga.

Nah, bagaimana bila masih ada calon klien yang menyebut Notaris cuma modal kertas, meterai dan stempel Garuda? Saran seorang rekan Notaris ini boleh dicoba: “Suruh saja ia membuat aktanya sendiri. Stempel pakai namanya sendiri. Semoga “sah” dan “diakui”. (Coba kalau ia ke dokter dan tebus obat di apotek omong mahal dan minta diskon, niscaya disuruh balik pulang).

Featured Image Credits: Pexels

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.