Cerita Panas Cewek Azerbaijan

Kantuk masih sulit dijinakkan, ketika telepon genggam saya berdering pagi itu. Nomornya dari telepon kantor kami. Saya masih di luar kota, waktu yang berbeda dengan Jakarta, sementara kantor sudah buka. Apa boleh buat, musim peak season habis libur panjang, tidak mudah dapat tiket balik ke Jakarta.

Dengan suara masih parau, saya angkat telepon itu. Dari pegawai kantor yang menelepon, saya dapat berita: seseorang mencari saya. Tamu tersebut bermaksud mau bertemu langsung dengan Notaris. Katanya, masalahnya penting dan mendesak, karena menyangkut anaknya yang mau berangkat ke luar negeri. Setelah menanyakan nama sang tamu, saya coba mengingat-ingat. Ya, betul, itu Pak Susilo, klien lama kami. Semua properti milik pribadi dan anak-anaknya, yang membuat akta dan mengurusnya kantor kami.

Saya minta pegawai kami agar menjelaskan apa adanya bahwa Notaris masih belum balik ke Jakarta. Insya Allah baru lusa masuk kantor. Bila ada yang bisa dibantu, tentu pegawai kami bisa melayaninya terlebih dahulu. Saya minta untuk menanyakan lebih lanjut, apakah Pak Susilo atau anak-anaknya mau transaksi jual beli lagi atau bagaimana?

Aha, ternyata beliau bukan mau transaksi. Tapi minta dibantu pengurusan peningkatan status hak atas rumah tinggal atas nama anaknya, dari HGB mau menjadi Hak Milik. Dua tahun lalu beliau transaksi rumah tersebut dan kamilah yang membuat akta dan mengurusnya. Dan, anaknya tersebut esoknya mau terbang ke mancanegara. Saya minta pegawai membantu Pak Susilo sepenuhya, menerima dokumen-dokumen asli dan menyiapkan lampiran-lampiran.

Jika itu masalahnya, tentu bisa ditangani dulu oleh staf kami. Anaknya yang mau segera berangkat ke luar negeri itu hanya perlu menandatangani kuasa pengurusan dan lampiran-lampirannya . Dan, itu tidak harus di hadapan Notaris, karena bukan akta atau legalisasi. Saya pesan kepada staf agar meyakinkan Pak Susilo bahwa anaknya bisa berangkat dengan tenang, walaupun saya baru masuk kantor lusanya.

Begitu masuk kantor, semua dokumen yang perlu dicocokkan dengan aslinya, sudah saya tandatangani. Berkas berjalan lancar.

Esok harinya, tiba-tiba ruangan saya diketuk staf. Katanya, Pak Susilo mau bertemu saya. Pikiran negatif sempat terlintas: “Biasanya bila begini mau minta diskon nih, Ria,” kata saya kepada Ria yang membantu menangani. “Katanya mau silaturahmi saja, Pak. Beliau sudah bayar lunas biayanya,” kata Ria. Secepat kilat dugaan negatif tersebut saya hapus. Saya turun ke ruang tamu, menyalami Pak Susilo, hangat dengan menanyakan bagaimana kabarnya.

Untaian cerita Pak Susilo langsung mengalir deras. Menurutnya, ia dengan anaknya sudah datang ke kantor kami, ternyata masih tutup liburan. Lalu, mencoba datang ke rumah. “Kata Satpam, Bapak masih mudik. Saya lihat lampu hidup dan kursi teras dilipat. Saya juga kehilangan nomor HP Bapak. Padahal, anak saya sudah harus berangkat ke Azerbaijan, ” ceritanya bersemangat. Saya mengangguk-angguk penuh perhatian, lalu meminta maaf karena beliau sudah ke rumah segala, tapi tidak bertemu saya.

“Mas Andri, anak Bapak kerja di Azerbaijan ya?” tanya saya. “Ya, dua bulan lalu saya juga ikut ke sana,” kisahnya. Lalu bercerita soal pilihan rute perjalanan, pakai pesawat apa, lama perjalanan, proses mengurus visa, mata uang setempat dan lainnya. Tidak ada hubungan pembicaraan dengan akta dan kenotariatan, tapi saya arif menjadi pendengar yang baik, menyimak dengan seksama ceritanya. “Pak Takari sudah pernah ke Azerbaijan?” tanya beliau. “Wah, belum. Dengar cerita negara ini saja, baru dari Bapak,” kata saya terus terang dan low profil.

“Apa yang paling menarik di negara itu, Pak?” pancing saya. “Wah, ceweknya cantik-cantik semua, Pak. Sehingga ada istilah 10:2:1. Artinya, 12 dari 10 wanitanya cantik,” jawabnya bersemangat. Saya mengernyitkan dahi. Maksudnya? “Bila ada 10 wanita Azerbaijan, 10 orang cantik. Dari 10 tersebut, 1 amat cantik, 2 lagi amat-amat cantik sekali,” urai Pak Susilo tambah bersemangat menjelaskan rumus 10:2:1 yang diperkenalkannya.

“Jadi, bisa disebut negeri itu negeri para bidadari?”celutuk saya lagi. Pak Susilo tambah bersemangat menjawabnya: “Ya.Benar. Cantik semua, Pak.”

“Kalau begitu, bila nanti Bapak ke sana lagi, ajak-ajak saya ya, Pak.” Lalu, kami tertawa terbahak-bahak. Para pegawai yang mendengar dari kejauhan, tak kuat pula menahan tawa.

Begitulah salah satu cara membangun hubungan dengan klien. Kadangkala perlu humor dan tertawa. Yang paling penting: kita perlu banyak mendengar, bukan banyak berbicara. Biarkan ia mengungkapkan ceritanya, kita mendengar dengan seksama. Ia akan senang dengan kita. Dalam buku The Art of Dealing with People, penulisnya Les Giblin, mengutip pernyataan Oliver Wendell Holmes: “Mampu mendengar orang lain dengan sikap simpatik dan penuh pengertian, merupakan mekanisme yang paling efektif di dunia untuk memiliki hubungan baik dengan orang lain dan menjalin persahabatan yang abadi.”

Dalam buku tersebut, Les Giblin memberi nasihat: ajukan pertanyaan tentang topik yang dibicarakan. Tetaplah pada topik si pembicara. Jangan mengubah topik, tidak peduli betapa inginnya anda membicarakan topik tertentu.

Featured Image Credits: Pexels

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.