Bantingan Pintu Putri Debitur

PRAAAK….. Pintu dibanting keras. Lalu anak perempuan yang masih berusia lebih kurang 4 tahun tersebut berteriak kencang: “Mama jahaaat…. Brengsek!” Dia meraung kencang dengan suara melengking. Semua orang di sekitarnya kaget. Jantung berdegub lebih kencang. Terkejut. Itu bukan adegan sinetron televisi yang memang dominan dengan peran kekerasan. Bukan pula peristiwa kekerasan rumah tangga. Tapi adegan itu nyata terjadi ketika saya sedang melakukan tugas pengikatan nasabah di sebuah bank swasta.

Waktu itu, kami sudah berkumpul di ruang rapat bank yang terkenal itu. Ada pemimpin cabang, ada pejabat legal dan pemasaran. Debiturnya suami istri hadir lengkap. Bahkan, ia juga membawa anak putri usia 4 tahun. Dan, tentu saja, saya selaku Notaris&PPAT beserta seorang asisten. Kursi di ruang rapat tersebut terisi penuh oleh kami para hadirin yang berkepentingan. Tapi anak debitur tadi, tidak kebagian kursi. Ia berdiri dan mondar-mandir saja di ruang rapat. Sesekali merapat kepada ibunya. Sesekali ia keluar ke ruang rapat, lalu masuk pula kembali. Anak ini tampaknya tergolong aktif. Dalam bahasa lain : tidak bisa diam.

Akad kredit segera dimulai. Saya dan asisten memeriksa asli-asli dokumen dan indentitas debitur. Menyocokkan dokumen fotokopy sesuai dengan aslinya. Segera setelah semua siap, akad kredit pun dimulai. Legal bank menjelaskan lebih dahulu poin-poin dan aspek pembiayaan sesuai dengan Surat Persetujuan Pemberian Kredit (SPPK). Setelah debitur bersama istrinya menadatangani SPPK tersebut, sampailah giliran saya. Membacakan dan menjelaskan akta notaril Perjanjian Kredit.

Sementara putri debitur nan cantik tersebut tampak semakin aktif. Ia tidak lagi sekadar berpindah-pindah tempat, keluar masuk ke ruang rapat atau menyandarkan diri pada Ibunya yang serius menyimak akta yang saya bacakan. Ia mulai memainkan spidol whiteboard, mencoret-coret, lalu menggambar sembarangan. Untungnya, coret-coret itu dilakukannya di whiteboard yang putih bersih itu. Tidak di tempat lain seperti tembok, meja misalnya.

Ibu dan Bapaknya agaknya merasa tahu diri. Mereka interupsi akta yang saya bacakan, berhenti sejenak, lalu menegur anaknya yang melakukan coret-coret tersebut. “Udah, nggak apa-apa, Buk. Biarin aja,” ujar legal bank, mencoba berbasa basi sebagai tuan rumah yang baik. Anak tersebut terus saja mencoret-coret tidak karuan. Saya menoleh ke papan tulis putih itu. Sempat tersenyum geli, karena ada gambar yang dibuatnya berbentuk lucu. Gambar itu seperti peluruh kendali yang siap tembak. Di pangkal gambar peluru itu, sepertinya ia membuat gambar rumput. Sehingga bentuknya mengundang konotasi lain, yang membuat yang hadir tampak tersenyum-senyum. Entah senyum malu atau senyum suka. Saya terus melanjutkan pengikatan dengan APHT.

Sampai sejauh itu, situasi masih aman. Namun, lambat laun, anak tersebut tampaknya makin agresif. Ia terlihat agak rewel. “Ayo, Ma. Pulang. Lama amat sih di sini!” keluhnya. “Ya, sebentar lagi,” jawab ibunya dengan nada datar saja.

Kemudian, si anak mengaduk-adukkan tangannya di atas meja. Sehingga, dokumen-dokumen penting yang ada di meja rapat berantakan. Saya menyelamatkan asli sertipikat, akta-akta dan dokumen lainnya. Bapaknya diam saja. Tapi mamanya tampak agak marah. “Kamu tunggu di luar dulu ya,” katanya mamanya dengan nada tinggi. Tampaknya si anak tidak terima permintaan mamanya yang seperti dengan nada mengusir itu. Terlihat sekali dari ekspresi sang putri. Ia memasang mata mendelik ke mamanya. Namun, ia mematuhi permintaan mamanya. Pelan-pelan, dengan langkah kesal, ia berjalan menuju pintu ke luar.

Nah, saat itulah peristiwa itu terjadi. Tangan sang putri terjepit di pintu masuk ruang rapat. Maklum, pintu ruang rapat itu memakai engsel pegas. Begitu dibuka, pintu akan tertutup otomatis. Tampaknya tangan sang anak masih berpegang pada kusen pintu ketika ia mau ke luar, sehingga saat pintu tertutup otomatis, tangannya terjepit. Dan, ia membanting pintu, keras sekali.

Mungkin kesal sama mamanya yang telah menyuruhnya ke luar dan kaget karena tangannya terjepit, maka anak itupun melampiaskan kemarahannya. Pintu dibanting sekeras-kerasnya, lalu berteriak memaki mamanya. “Mama jahaaat…. Brengsek!”

Kami seisi ruanganpun terkejut. Staf-staf bank di ruangan lain berlarian ke tempat kejadian. Setelah dicek tangan anak yang terjepit pintu itu, ternyata tidak ada cedera yang cukup berarti. Meskipun begitu, tampaknya lumayan sakit. Mungkin bagian yang tercepit adalah kukunya. Menurut hemat saya, reaksi anak tersebut kasar sekali. Saya juga pernah punya akan kecil, lelaki pula semua, tapi tidak pernah reaktif dan kasar seperti itu, bisik hati saya.

Untungnya seluruh proses pembacaan akta-akta sudah selesai. Tapi belum sempat ditandatangani, peristiwa “kecelakaan” itu sudah terjadi. Acara pengikatan diskor beberapa saat sampai tangis anak tersebut reda. Barulah penandatangan akta-akta oleh debitur bisa dilakukan. Lumayan dramatis.

Kejadian seperti itu, tampaknya sepele. Ada debitur membawa anak kecil. Tapi, menurut saya, hal itu tidak bisa dipandang enteng. Sebagai Notaris, kita tetap harus hati-hati. Betapa tidak. Jika ketika anak tadi kesal, yang mengaduk-aduk benda-benda yang ada di meja, air minum yang disuguhkan tumpah dan mengenai asli sertipikat dan akta-akta, kan berabe. Atau sertipikat dan akta-akta robek di tangan anak itu?

Jika kemungkinan tersebut di atas terjadi, secara hukum memang kita Notaris tidak salah. Bank juga tidak salah. Tidak ada yang salah. Toh, itu perbuatan anak debitur yang notabene juga masih di bawah umur. Tapi, bagaimanapun, tentu saja kejadian itu tidak diinginkan semua pihak.

Dalam hal seperti itu, kita perlu sedikit sensitif. Ada beberapa hal yang bisa disarankan. Misalnya, sebelum akad, kita Notaris mungkin perlu kontak debiturnya lebih dulu. Tentu saja tidak khusus bertanya apakah ia nanti pada waktu acara akad membawa anak kecil atau tidak. Tidak seperti itu. Tapi, kita (ini bisa juga dilakukan asisten Notaris) menelepon nasabah, sambil konfirmasi. Contoh kalimatnya begini: “Bapak dan Ibu Budi, kami dari Notaris A. Mau konfirmasi aja, sudah tahu ya Buk, besok kita mau tanda tangan akad kredit di Bank XX di kantor cabang Jalan Sudirman?” Kemungkinan ia akan menjawab, “Sudah”.

Kita lanjutkan. “Baik, Buk. Mengingatkan saja, mohon jangan lupa membawa asli-asli KTP, Kartu Keluarga, Surat Nikah, asli SPPT PBB dan NPWP ya, Buk.” Mengingatkan hal ini tentu saja penting. Karena seringkali nasabah lupa membawa asli-asli dokumen identitas dirinya, karena merasa sudah cukup dengan memberikan fotocopy-nya pada bank. Padahal, bagi kita Notaris, hal tersebut mutlak ada.

Nah, jika ia jawab ya. Kita bisa tambahkan lagi, misalnya: “Besok Ibu datang berdua sama Bapak, tentu ya, Buk?” Ini pertanyaan pancingan. Apakah ia hanya berdua atau ada yang lain lagi yang ikut bersamanya. Apabila ia jawab, “Ya, saya sama Bapak. Tapi anak saya belum bisa ditinggal, kemungkinan ia ikut.”

Kalau seperti itu, kita mungkin bisa jawab begini: “O, begitu. Boleh. Bila anak Ibu memang tidak bisa ditinggal, tidak apa-apa, Buk. Cuma, saran kami, Ibu harus membawa orang yang bisa menjaga anak Ibu. Mungkin ponakan Ibu yang sudah dewasa, atau mungkin baby sitter, pembantu. Intinya untuk menjaga si kecil sementara kita akad. Besok kita akad dengan Pemimpin Cabang juga, mungkin diskusinya lumayan panjang, apalagi bila banyak hal-hal yang akan Ibu tanyakan. Takutnya pas kita akad nanti si kecil bosan, mau ke toilet atau butuh cemilan, sudah ada yang membantunya.”

Nah, pada tahap seperti ini, bisa jadi ia malah akan memutuskan untuk tidak membawa anaknya. Bila itu yang diputuskannya, aman sudah, tentu. Karena, ia pikir, bakal cukup repot bila membawa anak kecil. Tapi bila akhirnya ia memutuskan membawa anaknya, kita sudah kasih ide bahwa ia harus juga menyiapkan penjaganya.

Hal-hal seperti ini memang di luar tugas pokok kita sebagai Notaris. Tapi tidak ada salahnya komunikasi dengan debitur mulai dibangun sebelum akad. Ada beberapa hal manfaatnya. Pertama, mencegah terjadinya insiden banting pintu ruang rapat seperti tadi. Kedua, bila kita sudah berkomunikasi sebelumnya, ketika akad berlangsung, suasana cepat cair, tidak tegang, bahkan cepat akrab. Bila sudah demikian, jika suatu saat debitur tersebut butuh jasa Notaris lagi, ia hanya akan menghubungi Anda. Karena sudah terbangun relationship yang baik. Tidak akan ke lain hati, seperti kata syair lagu.

Featured Image Credits: Pexels

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.