Agar Klien Betah Menunggu

Menunggu, kata orang, adalah hal sangat membosankan. Apakah hal itu hanya berlaku zaman doeloe saja? Atau masih tetap berlaku juga zaman sekarang? Yang jelas zaman memang telah berubah. Dulu, ketika orang menunggu resep obatnya diracik di apotek misalnya, bisanya bengong saja. Benar-benar membosankan. Masih untung bila di meja tamunya tersedia majalah-majalah yang bisa sebagai pelengah waktu menunggu. Bila tidak, waduh, gelisah. Makanya kita sering membaca pengumuman di apotek yang berbunyi begini: “Meracik Obat Memerlukan Waktu dan Ketelitian. Mohon Bersabar Menunggu”.

Pengumuman sejenis itu, dulu juga sering kita temukan di tempat praktek dokter gigi. Tapi itu dulu. Namun, belakangan, di dokter gigi langganan saya misalnya, kini tak ada pengumuman seperti itu lagi. Yang ada adalah stiker pengumuman “Free Wifi”. Maka, para tamu yang menunggu giliran dipanggil dokter gigi, sibuk bertanya password wifi-nya. Para pasien itu tidak lagi melongo. Tapi “khusuk” memegang gadget-nya masing-masing. Ada yang serius mengetik telepon pintarnya. Ada yang senyum-senyum sendiri, mungkin sedang chatting di media sosial. Ada pula yang menggoyang-goyangkan kaki, dengan headset di telinga, asyik menikmati musik kesukaannya. Majalah-majalah yang tersedia di meja tamu, yang semula diperuntukkan membunuh jemu karena menunggu, kini tak lagi disentuh.

Kantor Notaris/PPAT, mungkin sudah banyak juga yang memanfaatkan tren ini. Sudah menyediakan fasilitas wifi gratis buat para tamunya. Sehingga, sementara menunggu akta dipersiapkan, para tamu dibuat tidak bosan menunggu. Mereka asyik bersilancar dan berinteraksi di dunia maya dengan gedgat-nya. Dengan fasilitas internet zaman kini, menunggu tak lagi proses yang membosankan.

Namun, apakah itu cukup? Memberikan dan membiarkan para tamu yang menunggu dengan fasilitas internet sebagai “mainan” penghibur waktu menunggu? Menurut saya tidak cukup. Fasilitas wifi gratis dan internet itu, bagus saja, tentu. Tapi para tamu yang menunggu di kantor kita, tetap harus diperlakukan sebagai manusia. Sisi humanisnya harus tetap ada. Setiap orang perlu diperlakukan manusiawi.

Saya teringat lagi dengan tulisan Les Giblin dalam sebuah bukunya tentang hal yang sangat disukai manusia yaitu penghargaan. Dalam bukunya How to Have Confidence and Power in Dealing with People, penulis dari Prancis itu menegaskan bahwa semua orang perlu diberi penghargaan. Ia menyatakan bahwa ada empat cara untuk menghargai orang lain.

Pertama, perlakukan orang lain sebagai orang “istimewa”. Caranya sederhana dan tidak muluk-muluk. Jangan perlakukan orang lain secara umum. Misalnya, bila berbicara dengan orang lain, tamu atau klien, maka jangan hanya memanggilnya bapak, ibu, mas atau mbak. Tapi sebut namanya. Bila namanya misalnya Ahmad, maka panggillah ia dengan sebutan “Pak Ahmad”, jangan “Pak” saja. Saya juga sering mendengar orang berbicara dengan menyebut “bapak ini”. Menurut saya, itu justru lebih tidak menghargai lagi. Tapi, sebutlah namanya: “Bapak Budi”, “Mbak Nadia” misalnya. Jangan sekali-kali menyebutnya dengan “bapak ini” atau “mbak ini”. Dengan menyebut namanya, kita telah membuatnya menjadi orang istimewa. Karena, kata yang paling indah bagi seseorang adalah panggilan namanya itu.

Kedua, menurut Les Giblin, ucapkan terimakasih pada orang lain.

Ketiga, ini yang paling berkaitan dengan topik tulisan ini: “jangan membuat orang lain menunggu Anda, kalau tidak terpaksa sekali.”

Keempat, kalau Anda mendapat tamu yang tidak bisa Anda temui dengan seketika—perhatikan bahwa Anda mengetahui kehadirannya dan beri tahu dia bahwa Anda akan menemuinya secepat mungkin.

Andaikan di kantor Anda sudah ada fasilitas wifi gratis, yang membuat tamu betah berlama-lama menunggu, tetaplah beri penghargaan dan perlakukan tamu dengan manusiawi. Jangan terlalu mengandalkan fasilitas teknologi saja, tapi beri sentuhan personalnya. Perlakukan mereka istimewa seperti saran Les Giblin, dan jika tamu tersebut memang harus menunggu, temuilah lebih dulu dengan mengatakan: “Mohon menunggu sebentar ya, Pak Budi. Kami sedang mempersiapkan berkas Pak Budi. Terimakasih.”

*dimuat majalah Renvoi edisi Agustus 2015

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.